Kisah Dua Anak Adam

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Doa (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”” (Q.S Al-Ma’idah : 27)

Ini adalah kisah pengalaman pertama kedua manusia di Bumi. Setelah pasangan Nabi Adam dan Hawa ‘alayhissalam turun bertemu di ‘Arafah, Allah Swt mengaruniakan anak keturunan kepada mereka.

‚ÄúTidaklah Hawa melahirkan kecuali selalu kembar laki-laki dan perempuan.” Diriwayatkan dari Ibnu Ihasq dalam Tafsir Baghowi dan Tafsir Al-Qurthubi bahwa Hawa melahirkan 40 anak dengan 20 kali mengandung.

Pada kehamilan Hawa yang pertama dan yang kedua, lahirlah anak kembar yang sepasang, yaitu Qabil dan Iqlima dan yang kedua Habil dan Lubuda. Saat keempat putera-puteri Nabi Adam as mencapai usia remaja dan memasuki alam akil baligh di mana nafsu birahi dan syahwat serta hajat kepada lawan jenis makin hari makin nyata, Allah Swt memberi ilham dan petunjuk kepada Nabi Adam ‘alayhissalam agar kedua puteranya dikawinkan dengan puterinya. Qabil dikawinkan dengan adik Habil yang bernama Lubuda dan Habil dengan adik Qabil yang bernama Iqlima.

Nabi Adam telah menyampaikan perintah Allah tersebut kepada kedua puteranya yang harus dipatuhi dan segera dilaksanakan. Akan keputusan itu ditolak mentah-mentah oleh Qabil dan menyatakan bahwa ia tidak mau mengawini Lubuda, adik Habil dengan alasan bahwa Lubuda adalah buruk dan tidak secantik adiknya sendiri Iqlima. Ia berpendapat bahwa ia lebih patut mempersunting adiknya sendiri Iqlima sebagai isteri dan sekali-kali tidak rela menyerahkannya untuk dikawinkan oleh Habil. Qabil tetap berkeras tidak mau menerima keputusan ayahnya dan meminta supaya dikawinkan dengan adik kembarnya sendiri Iqlima.

Nabi Adam alayhissalam secara bijaksana mengusulkan agar menyerahkan masalah perjodohan itu kepada Allah untuk menentukannya. Caranya adalah masing-masing dari Qabil dan Habil harus menyerahkan kurban kepada Allah Swt dengan catatan bahwa barang siapa di antara kedua saudara itu diterima kurbannya ialah yang akan menikahi Iqlima. Qabil dan Habil menerima baik jalan penyelesaian yang ditawarkan oleh ayahnya. Habil keluar dan kembali membawa peliharaannya sedangkan Qabil datang dengan sekarung gandum yang dipilih dari hasil cocok tanamnya yang rusak dan busuk. Mereka meletakkan qurban kambing dan gandum itu di atas sebuah bukit lalu pergilah keduanya menyaksikan dari jauh apa yang akan terjadi atas dua jenis kurban itu.

Setelah beberapa saat, kelihatan api besar yang turun dari langit menyambar kambing binatang kurban Habil yang seketika itu musnah termakan oleh api sedangkan karung gandum kepunyaan Qabil tidak tersentuh sedikit pun oleh api dan tetap tinggal utuh. Maka dengan demikian keluarlah Habil sebagai pemenang karena kurbannya telah diterima oleh Allah.

Kurban secara bahasa berasal dari qo ro ba, artinya dekat. Berkurban artinya berusaha untuk mendekat. Kalau ingin menjaga kedekatan maka kita harus siap berkurban. Semakin besar yang dikurbankan maka akan semakin dekat. Jadi begitu kisah kurban pertama kali diterima oleh Allah Swt. Jelas tadi bahwa kurban yang terima Allah adalah kurban orang-orang yang bertaqwa. Maka untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita harus berkurban. Baik dengan tenaga maupun pikiran.

Tinggalkan komentar