Kasus Covid 19 Mengganas, Rebahanlah…!

Oleh : 

dr. Syukri Mawardi 

Departemen Yankes BSMI Sulawesi Selatan 

 

Sejak awal pandemi, saya melakukan dua hal sederhana untuk proteksi. Pertama adalah berusaha agar tidak terinfeksi. Yang kedua jika telah terinfeksi lalu bergejala (paling sering adalah demam), maka rebahanlah.

Pertama adalah jangan terinfeksi. Bagian ini adalah ikhtiar sebagai makhluk. Caranya ada banyak, memakai masker dengan berbagai macam model dan kualitas yang sudah ada, menghindari kerumunan utamanya di ruangan tak berventilas dan jaga jarak aman.

Karena bagian ini bisa di ikhtiarkan, maka bagian ini berada di bawah kendali kita. Namun, dalam hidup memang tidak semua hal bisa berada dalam kendali kita. Ada banyak yang bermasker tetap juga masih terkena. Sebabnya banyak tentunya.

Hal kedua adalah jika telah terinfeksi dan bergejala (gejala paling sering adalah demam) maka bedrets-lah atau dalam bahasa milenial hari ini, rebahanlah.

Pada dasarnya rebahan adalah insting alamiah. Bisa dikatakan dia adalah “fitrah” yang Allah berikan kepada setiap makhluk. Naluri ini bekerja jika tubuh merasa memerlukan. Tubuh akan mengerjakan mekanisme pertahanannya sendiri dan menjalankan mekanisme untuk mendapatkan kembali keseimbangan.

Saya berikan contoh sederhana. Pernah pelihara ikan? (contoh ikan bitte, hahah). Jika iya, coba perhatikan ikan yang sedang sakit, apa yang dilakukan? Ikan akan rebahan di dasar kolam. Diam tak bergerak dibawah permukaan kolam.

Contoh lain, pernah lihat ayam yang tampak sakit? Apa yang dilakukannya? Ayam ini secara naluri akan mencari tempat yang nyaman untuk nyempil lalu diam tak bergerak. Ayam me-retriksi geraknya.

Contoh lain. Perhatikanlah bayi yang sedang demam, apa yang terjadi? Bayinya akan rewel ingin terus digendong. Sebenarnya bayi ini sedang menjalankan menkanisme alamiahnya, me-reduksi gerakannya sendiri.

Sederhananya adalah bayi ini sedang ingin bedrets/rebahan tapi tubuh tidak nyaman sehingga rewel dan selalu ingin dipeluk gendong.

Begitulah Allah menciptakan “fitrah” makhluk sebagai naluri alami untuk bertahan. Tubuh akan berusaha mempertahankan keseimbangannya lalu mencari jalan keluar.

Manusialah yang kadang akhirnya merusaka mekanisme itu atas nama tuntutan pekerjaan, deadline pekerjaan, eksis dll sehingga mengabaikan “alarm” dari tubuh sendiri.

Ya, demam, rasa tidak nyaman itu adalah alarm yang telah Allah ciptakan sebagai mekanisme alamiah agar manusia sadar bahwa tubuhnya sedang meminta hak untuk diistirahatkan sejenak, untuk bedrest sejenak, untuk direbahkan sejenak. Tapi, manusianya lah yang memang lebih sering mengabaikan alarm ini. cara mengabaikannya seperti kisah dibawah ini.

Si A mengalami demam dan lidah terasa pahit. Dalam kondisi seperti ini kita akan mencari obat demam (baik kimia mauun herbal/daun-daun). Apakah minum obat demam salah? Tentu tidak. Yang keliru adalah tujuannya. Untuk apa minum obat demam?

Jawabannya tentu adalah agar bisa beraktifitas kembali, bekerja lembur kembali, masuk kantor dan nongkrong di warkop lagi, bisa jaga seharian penuh lagi, bisa futsal lagi, bisa begadang lagi, bisa nonton film hingga tengah malam lagi dan masih banyak lagi, lagi, lagi yang lain.

Padahal, obat demam itu diberikan justru agar pasien bisa beristirahat atau rebahan (bedrest) dengan nyaman dan maksimal tanpa disertai demam lagi, bukan untuk “memacu gas” beraktivitas kembali.

Kita manusia urban memang adalah manusia-manusia yang kekurangan tidur, bukan kekurangan manusia yang kekurangan kalori.

So, berikhtiarlah semaksimal mungkin agar tidak terinfeksi dan jika telah bergejala, maka REBAHANLAH…

Paccinongang, 8 Juli 2021

Leave a Reply