Kasih yang Tiada Berganti

Dua puluh empat tahun yang lalu, tahta kasih sayang masih bertengger pada kedua orang tua.
Berputarnya waktu mengajarkan bahwa ada ruang yang belum terisi. Menjadikan visi dan misi menggapai ridho ilahi lewat “makhluk baru” yang bernama suami menjadikan ruang itu kini berpenghuni.
Meski sekat dan jarak pernah melanda. Hilang arah sebelum datangnya pertanda, namun ia tahu mana porosnya. Membuat rumahtangga menjadi ajang men”dewasa” bersama. Menumbuhkan cinta dan kasih yang masih benih sebelumnya.
Perkenalan yang tanpa disengaja, pertemuan diwaktu yang tak biasa, dan “rasa” yang tiada pernah tahu kapan mulai tumbuhnya adalah cara Tuhan menjadikan setiap episode hidup ini menjadi berwarna.
Belum genap setahun kapal ini berlayar, dengan suami nahkoda dan istri awak kapalnya. Masih menyisakan ruang yang tak berpenghuni disudut kapal kita. Hakikat manusia tiada pernah puas dengan apa yang sudah ada, ingin ini dan ingin itu kembali. Membayangkan akan indah terasa jika di ruang itu ada tambahan anggota, mungkin jauh lebih lengkap personil kita.
Alhamdulillah, Allah maha tahu apa yang kita butuh. Tidak sekedar ingin, gayung itu kini bersambut.
Sembilan bulan sudah ruang itu kita jaga, lewat dekap doa dan usaha akhirnya kini ia ada. Ruang itu berpenghuni.
Lewat tangis ia menjelma.
Lewat tawa ia membuat hari berwarna.
Lewat aktingnya memicu tawa.
Lewat lirikannya membuat raga tak ingin berpisah.
Masih banyak lagi kasih sayang yang tak biasa pada “makhluk” yang kini telah mengisi ruang di kapal kita.
Secercah cahaya kini membuat lorong terasa hangat dan berwarna.
Pelengkap ceritra diperjalanan kehidupan berumah tangga menuju SurgaNya.
Dia lah amanah yang harus selalu dijaga. Ketidak tauannya membuat kami harus menjadi guru yang luar biasa. Tempat dia bertanya akan pertanyaan luar biasa. Dan tempat kembali jika ia mengembara.
Kami lah rumah ternyaman yang selalu terbuka untuknya kembali diwaktu senja.

Kini kasih itu bukan terganti

Namun menanjak ke pijakan yang lebih tinggi

Menghormati beliau yang pertama kali mengasihi

Mencintai beliau yang berani mendatangi dan menjabat erat tangan sang wali

Dan menyayangi dia yang kini hadir ditengah hangatnya keluarga ini

Tinggalkan Balasan