Jingga Ku Kelabu

Senyap sore (jingga)

Hay, apa kabar?

Sudah lama tak jumpa

Baik kah engkau disana (jingga)

Sudah lama tak berkabar

Semenjak kisah ini terpisah

Dulu per-lembar terangkai menjadi satu

Kini tak berbekas seperti yang dulu

(Jingga) disore ini

Senyap dan terasa sunyi

Semilir angin tak lagi menyejukkan

Rindang pepohonan tak lagi meneduhkan

Gemercik hujan tak lagi menentramkan

Sepi tak berpenghuni, kini di sini

Lima bulan yang lalu kau datang, penghuni baru rumah sebelah. Senang, akhirnya ada teman baru. Itu lah awal pikir ku mengetahui keberadaan mu. “Jingga,” ucap mu memperkenal kan diri. Nama yang indah ujur ku kelu.

Kau Jingga tetangga sebelah, beberapa minggu sudah mampu mengambil rasa. Ada sayang dan juga kasih dari orang sekitar. Sikap mu yang ramah, menganggap semua adalah saudara. Tak membedakan manusia berdasarkan kasta adalah hal utama menjadikan mu layak sebagai saudara.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan ini adalah bulan kedua kita bertetangga. Sebuah pesan masuk ke handphone ku dan setelah ku baca itu dari mu. “Aku ingin hijrah, gimana caranya,” itu lah sebuah pesan yang membuat ku makin bersyukur bisa mengenal mu.

Tidak perlu waktu lama langsung ku balas pesan mu. Dan akhirnya bertubi tubi pertanyaan dan jawaban yang mengantarkan kita pada satu kesimpulan, engkau ingin berubah ke arah yang lebih baik lagi. Alhamdulillah, syukur yang luar biasa jika niat mu sudah mantap. Dan benar saja, minggu berikutnya kau meminta ditemani berbelanja pakaian muslimah. Kau tahu apa reaksi ku? Aku terharu, engkau yang ku tahu dari cerita mu bukan lah wanita yang bisa cepat berubah. Tetapi atas hidayahNya, begitu pesat perubahan yang kau dapati.

Aku senang, punya saudara seperti mu Jingga. Perubahan mu dalam berhijrah ternyata tidak main main. Kau dan suami mu, adalah dua insan yang baik. Di atas niat memang harus ada pembuktian. Dan puncaknya yang semakin membuat ku kagum pada mu, suami mu memilih resign dari pekerjaan yang telah mengantarkan mu ke Ibu Kota ini.

Ketika ku tanya kenapa, karena tak ingin terus terusan dalam kubangan dosa, itu jawaban cerdas dari mu. Karena menurut penutaran mu, bahwasanya sedikit banyak pekerjaan suami mu masih berkecimpung dengan yang haram. Dan akhirnya kalian memilih dengan tepat untuk sebuah keputusan.

Yah sebuah keputusan yang membuat hari hari ku di sini menjadi sepi, seperti tak berpenghuni. Sunyi di tengah kebisingan dan sendiri di tengah keramaian. Dua minggu lalu adalah hari bersejarah bagi mu dan juga aku. Kau memilih hijrah seutuhnya ke ujung negeri sana, yang kata mu lebih membutuh kan aku.

Kini, jauh dari hingar bingar ibu kota. Apa lagi untuk sekedar makanan, kehidupan disana tentu lebih akan menantang. Sering kau berkabar kalau disana “aku masih baik baik saja”. Memang banyak yang berubah, tak ada makanan seperti yang sering aku upload dulu, ujur mu. Aku rindu makanan di sana, rindu mbak dan rindu Baim anak mu, tambahnya lagi.

Dan tentunya di sini, kami selalu merindukan mu lewat doa doa panjang kami. Semoga kau tetap istiqomah menjaga niat hijrah mu sampai di sana.

 

 

#Writober

#RBMIpJakarta

#ibuprofesionaljakarta

Leave a Comment