Intelektual Publik, Perempuan, Florence Nightingale

Pengantar

Apa yang saya tulis di sini mungkin tidak sampai 1% dari keseluruhan biografi Florence Nightingale yang bisa kita akses secara bebas di internet maupun literatur-literatur cetak. Jadi, bisa dikatakan, tulisan ini hanyalah ringkasan dari pengantar untuk mendalami kisah hidup Florence secara utuh. Saya telah beberapa kali menulis tentang Florence Nightingale di media dan blog, dan itu pun masih saya anggap belum bisa menggambarkannya betapa luar biasanya kontribusi seorang Florence Nightingale semasa hidupnya (12 Mei 1820-13 Agustus 1910).

Panggilan Jiwa

Florence Nightingale bisa saja hidup bak putri dari negeri dongeng. Kedua orang tuanya, William Edward Nightingale dan Frances “Fanny” Smith, merupakan bangsawan yang memiliki kekayaan melimpah. Rumahnya di Derbyshire dan Hampshire, Inggris, megah layaknya istana. Ia pun pernah dilamar oleh dua orang pemuda dari keluarga berada. Dengan semua yang ia miliki, bisa dibilang hidupnya sempurna. Namun, ternyata itu semua tak membuat Florence bahagia. Ia justru memilih jalan yang menyimpang dari keinginan keluarga besarnya.

Panggilan itu ia dapatkan ketika berusia 16 tahun. Ia mengaku mendengar “suara Tuhan” yang memintanya untuk melakukan pelayanan bagi masyarakat. Namun, saat itu, ia belum tahu apa yang harus dilakukannya. Seiring bertambahnya usia, ia akhirnya menemukan kepuasan batin ketika mengunjungi orang-orang miskin di sekitar tempat tinggalnya, membawakan mereka makanan dan obat-obatan bagi yang sakit, hingga menghabiskan waktu di samping pengasuhnya semasa kanak-kanak yang sedang sekarat. Sejak saat itu, ia membulatkan tekad ingin menjadi seorang perawat. Meskipun ditentang oleh kedua orang tuanya, pada tahun 1845, ia tetap berangkat belajar menjadi seorang perawat di Rumah Sakit Salisbury. Enam tahun kemudian, pada 1851, ia pergi ke Jerman untuk memperdalam ilmu keperawatan di rumah sakit Kaiserswerth.

Capaian seumur hidup (lifetime achievement) Florence selama menjadi perawat adalah keterlibatannya dalam perang Krimea (1854-1856). Ia bersama 38 perawat yang direkrut khusus bekerja di rumah sakit Kota Scutari, Turki. Dalam perang ini, Inggris dan Perancis membantu Turki Utsmani untuk menghalau serangan dari Russia. Di Scutari, Florence mereformasi tata cara perawatan pasien yang selama ini hanya berfokus pada penyakit menjadi berorientasi ke penatalaksanaan lingkungan. Melihat banyaknya serdadu yang meninggal dunia setelah mendapatkan penanganan dari dokter, Florence berkesimpulan bahwa perawatan di rumah sakit tidak cukup hanya dengan pemberian obat-obatan, melainkan juga pengkondisian lingkungan yang bersih, hangat, bebas infeksi, nutrisi yang cukup, dan dukungan spiritual yang kuat. Atas perubahan yang dilakukan Florence dan timnya, angka kematian serdadu di rumah sakit Scutari yang sebelumnya mencapai 42,7% turun drastis menjadi 2,2% dalam enam bulan.

Sepulang dari Turki, masyarakat Inggris pun mengelu-elukannya. Ia menjadi pahlawan setelah berhasil mengatasi semua kesulitan di barak, seperti terbatasnya logistik, lingkungan bangsal yang tak mendukung, resistensi dari para dokter, dan lain-lain. Berkat kemampuan administratif dan manajerialnya yang luar biasa, ia berhasil menggalang dukungan publik untuk menyumbangkan barang-barang yang bermanfaat bagi kepentingan pasien di medan tempur. Tak lupa juga kegigihannya mengecek satu persatu kondisi pasiennya tiap malam dengan membawa lampu hingga ia dijuluki “The Lady of the Lamp”.

Berkat jasanya itu, Ratu Victoria memberinya hadiah. Hal itu membuat keluarganya, yang semula menentang keinginannya menjadi seorang perawat, sangat bangga dengan capaiannya yang dapat menyita perhatian publik Inggris. Sejak saat itu, ia tak pernah berhenti memperjuangkan hak-hak kesehatan masyarakat. Ia aktif mengadvokasi isu-isu kesehatan kepada para pejabat tinggi Inggris, mendirikan sekolah perawat di London (sekarang menjadi Florence Nightingale Faculty of Nursing and Midwifery, King’s College London), menginisiasi organisasi palang merah di Inggris, dan berpartisipasi dalam reformasi manajemen rumah sakit.

Pada tahun 1907, Raja Edward VII menganugerahinya Order of Merit, yang menjadikannya sebagai wanita pertama yang menerima penghargaan tingkat tinggi tersebut. Tiga tahun kemudian, pada 13 Agustus 1910, ia meninggal dunia dengan tenang di tempat tidurnya. Nightingale meninggalkan dunia dengan segudang karya seperti Notes on Nursing (1860), Notes in Matters Affecting the Health, Efficiency and Hospital Administration of British Army (1857), Notes on Hospital (1859), dan lain-lain. Karyanya yang lebih lengkap, termasuk buku dan surat-suratnya, dikumpulkan oleh Lynn McDonald dalam seri buku Collected Works of Florence Nightingale yang terdiri dari 16 jilid.

Bibit Intelektual
Jika keinginan menjadi perawat muncul karena panggilan dari “Tuhan”, ada beberapa faktor yang menjadikan Florence sebagai intelektual yang kritis dan produktif:

a. Pendidikan
Selayaknya putri bangsawan pada masa itu, Florence mendapatkan pendidikan dari ayahnya secara langsung. Pelajarannya meliputi bahasa Latin dan Yunani, sejarah, literatur Inggris, dan musik. Dari sana, muncul minatnya terhadap karya klasik seperti Shakespeare, Charles Dickens, Victor Hugo, dan lain-lain. Selain itu, Florence remaja begitu menggemari matematika. Saking getolnya belajar, ibunya sampai marah dan berkata bahwa takkan ada pemuda yang tertarik padanya kalau ia terlalu sibuk menggeluti pelajaran-pelajaran serius. Itu menunjukkan bagaimana Florence benar-benar menganggap pendidikan sebagai alat untuk membuat perubahan. Hal itu berbeda dengan perempuan pada zamannya yang mengenyam pendidikan sebagai “formalitas” putri bangsawan agar dianggap terdidik dan mudah mendapatkan jodoh.

b. Interaksi dengan para ilmuwan
Selain dari pendidikan semasa kecil, hal yang memacu perkembangan intelektualitas Florence adalah interaksinya dengan dua ilmuwan besar pada masa itu:

Pertama, L. A. J. Quetelet, seorang ahli statistik Belgia yang berpengaruh besar dalam pendekatakan metodologis yang ia gunakan. Nightingale membaca karya-karya Quetelet seperti Physique sociale (1835), Système social (1848), dan Anthropométrie (1870), yang metodologinya ia gunakan untuk menulis buku Notes on Lying-in Institutions (1872). Kemampuan matematis dan statistik itulah yang menjadi dasar bagi Florence untuk melakukan reformasi besar-besaran bagi sistem kesehatan dan manajemen rumah sakit di Inggris saat itu. Atas jasanya, pada tahun 1858, William Farr, seorang dokter dan ahli statistik, mengajukannya sebagai anggota Royal Statistical Society (RSS). Florence adalah wanita pertama yang menjadi anggota perkumpulan tersebut.

Kedua, John Stuart Mill, yang dikenal karena paham utilitariannya. Mill memberikan dasar bagi cara berpikir Florence. Itu terlihat dari semua karya-karya Florence, yang tak hanya menekankan pada sisi praktis saja, tetapi juga aspek filosofis. Bahkan, ketika Florence menulis bukunya Suggestions for Thought (1860), Mill adalah orang pertama yang dimintai pendapat. Florence juga mengungkapkan bahwa semua pokok pikiran dalam tulisannya itu dipengaruhi oleh karya Mill seperti A System of Logic (1843).

c. Jejaring
Statusnya sebagai putri bangsawan membuat Florence memiliki banyak kenalan, terutama para pejabat tinggi negara. Salah satu contohnya adalah Sidney Herbert, menteri perang Inggris yang ia kenal karena kedekatannya dengan keluarga Nightingale. Mr. Herbert lah yang meminta Florence untuk membantu pasukan Inggris di Scutari, sekaligus yang memfasilitasi penggalangan bantuan dari masyarakat Inggris. Selain itu, ada Sir Harry Verney, suami dari kakak kandungnya, Parthenope, yang merupakan pejabat Inggris. Florence sering berkirim surat dengan Sir Verney untuk mengadvokasi beberapa isu seperti pengentasan kemiskinan, perbaikan sanitasi, kesehatan serdadu, kesejahteraan pengungsi, dan lain-lain.

d. Perjalanan yang Membuka Wawasan
Sejak kecil, Florence sering diajak keluarganya berkeliling Eropa. Bahkan, ia sendiri lahir di Kota Florence, Italia, yang oleh orang tuanya kemudian dijadikan namanya. Saat menginjak remaja ke dewasa, Florence beberapa kali pergi ke luar negeri, misalnya pada tahun 1837-1839 bersama keluarganya yang membuatnya melek kondisi perpolitikan di Eropa. Pada tahun 1847-1848, Florence tinggal di Roma, dilanjutkan bepergian ke Mesir dan beberapa negara Eropa lain pada tahun 1849-1850, yang mengasah perkembangan intelektualnya. Perjalanan Florence ini dapat dibaca secara lengkap di seri Collected Work of Florence Nightingale volume 7 yang berjudul Florence Nightingale’s European Travels.

Perempuan Bukan Halangan
Hidup sebagai putri bangsawan Inggris pada abad ke-19 sebenarnya sangat membatasi gerak-gerik Florence. Saat itu, ekspektasi keluarga terhadap seorang perempuan adalah menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik. Itulah mengapa keluarga Florence sangat menentang ketika ia bermaksud menjadi perawat. Di dunia kerja pun ia sempat diremehkan. Seperti halnya saat ia bekerja di Scutari. Para dokter tidak mengizinkan seorang perempuan bermartabat untuk masuk ke dalam rumah sakit. Namun, bukan Florence Nightingale kalau tidak bisa mengatasi itu semua.

Florence berpendapat bahwa perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Oleh karena itu, tidak seharusnya perempuan memupus impiannya hanya karena pernikahan. Inilah yang membuat Florence memilih untuk tidak menikah, karena pada saat itu, menikah berarti membonsai seluruh potensinya. Maka, Florence pun memutuskan bahwa masa depannya berada di tangannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *