Ijtihad Membangun Kemerdekaan, Menuju Indonesia Unggul

By | Agustus 15, 2019

Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani maupun rohani.

Maka dengan tercapainya penyerahan kedaulatan, perjuangan belum selesai. Malahan kita berada pada permulaan perjuangan yang jauh lebih berat dan lebih mulia, yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan daripada segala macam penindasan
(Moh Hatta)

 

Lihatlah spanduk dan baliho setiap akan datang 17 Agustus. Dengarkan pidato dan sambutan para pembina upacara bendera tujuh belasan. Atau bahkan kita sendiri mengucapkan bahwa, “Kemerdekaan ini harus kita isi.”

Esensi Kemerdekaan RI ke 74

Kita mengandaikan kemerdekaan seperti ruang kosong yang hanya perlu diisi perabot dan lainnya. Padahal, kemerdekaan bukan ruang kosong. Kemerdekaan bangsa adalah hasil pergulatan antara entitas bangsa, kemajemukan pendapat dan faksi, serta mimpi bersama tentang lepas dari belenggu.

Idealnya, setiap kali memperingati proklamasi kemerdekan, pertanyaan yang mengusik adalah apakah sesungguhnya kita sudah merdeka—dan bukan usreg tentang siapa yang paling berperan dalam perjuangan mencapainya, hatta dengan dalih pelurusan sejarah.

Apakah kemerdekaan Indonesia yang diperoleh 74 tahun lalu, kini telah memerdekakan kita dari kemiskinan, penindasan, pemasungan HAM dan semua ketertindasan yang dialami bangsa terjajah? Pasca proklamasi adalah soal bagaimana agar rakyat ini merdeka dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan.

Adalah ironis tingkat kesejahteraan guru relatif lebih rendah dari pada semasa penjajahan. Adalah ironis rakyat sampai sekarang belum bebas dari budaya membayar upeti—yang sebetulnya adalah pungli.

Kata Goenawan Mohamad, orang ingin merdeka karena ia tahu apa artinya tidak merdeka. Tidak merdeka berarti: tiap saat siap ditempeleng, dilucuti, dibentak-bentak, diusir, dihina, diserobot, didiskriminasi, dilempar ke dalam sel, dan/atau dibunuh.

Anehnya retorik Agustusan yang sekarang tak banyak bicara soal kesakitan itu bahkan sering terdengar kata “mengisi kemerdekaan”, seakan kemerdekaan adalah “sebuah ruang kantor yang kosong, yang necis, gratis dan tinggal diberi perabotan.”

Para founding fathers mengaku dalam UUD ‘45 bahwa kemerdekaan dicapai bukan hanya sebagai hasil usaha perjuangan pergerakan nasional, tetapi terwujud berkat rahmat Allah yang Mahakuasa.

K.H As’ad Syamsul Arifin, tokoh NU berkata, “Kita sebagai orang Islam harus merayakan secara islami pula. Apalagi kita santri! Kita menghormati para pahlawan dengan cara mengirimi mereka pahala mengaji, bukan menyanyi. Kita selayaknya harus memasyarakatkan gerak batin bukan hanya gerak badan. Kita merayakan hari kemerdekaan, dengan cara memperbanyak membaca Al Quran, zikir dan sholawat.”

Apa yang membuat bisa merdeka? Keinginan kolektif, kesatuan tujuan, dan harapan masa depan yang tak jauh berbeda. Cita-cita bersama untuk merdeka begitu kuat. Kendati dalam kata-kata Ben Anderson, “Tanggal 17 Agustus 1945 Republik yang sudah lama diidam-idamkan lahir dan mulai melangkah dengan gugup.”

Bermodal kebersamaan dan kemauan untuk merdeka, dengan langkah gugup Indonesia masuk ke dalam babak baru berbangsa. Langkah itu tenyata juga historis di Asia, sebab Indonesia adalah daerah jajahan di Asia pasca PD II yang pertama kali memproklamasikan kemerdekaannya.

Segenap komponen bangsa tanpa memandang latar belakang etnis dan agama bersama-sama mengambil bagian dalam membentuk negara Republik Indonesia.

Mereka terlibat sebagai anggota BPUPKI dan PPKI, permasalahan ideologis menyangkut dasar negara diselesaikan dengan penuh kearifan dalam ikatan solidaritas yang amat kuat, sekaligus memperlihatkan ikatan kebesaran jiwa para pendiri republik ini.

 

Membangun Kemerdekaan Indonesia ala Milenial

Ijtihad macam apa dari kita anak bangsa untuk membangun kemerdekaan? Berikut beberapa hal yang patut diperhatikan.

Pertama, memahami bangsa dengan benar. Berbangsa dan bernegara adalah masalah yang berbeda. Bangsa telah terbentuk sebelum negara ada. Bangsa berbasis pada bahasa ibu, teritori asal, dan adat budaya yang dikembangkan.

Pranata bernegara ditubuhkan, dan mengalami dialektika melelahkan. Mekanisme elektoral dipakai, itupun diijtihadi berkali-kali. Pernah partai mencapai ratusan, lalu dipangkas jadi 48. Menyusut dan kelak akan lebih sederhana. Mungkin sedikitnya partai menunjukkan praktisnya berfikir sebuah bangsa dalam mengelola negara.

Maka, partai hanya alat, negara adalah puncak pengabdiannya. Islam adalah way of life, dan keridlaan Tuhan menjadi capaian utama. Muncullah istilah: muslim negarawan.

Kedua, kesadaran globalitas. Proses mendunia muncul dalam berbagai bentuk. Waspada dan sadari hal ini. Intervensi, hegemoni dan dominasi muncul tanpa sadar. Tiba-tiba musuh telah bersanding di tempat tidur kita, duduk di meja makan kita. Tanpa pernah mengundang mereka.

Tradisi konvensional harus digeser menjadi tradisi digital. Aktivitas yang padat di dunia maya, semua uang berubah menjadi cashless. Kaya akhirnya hanya persepsi, miskin juga hanya perasaan.

Uang hanya angka yang bergerak dari satu akun ke akun lain, dompet berubah aplikasi. Bisnis juga mengalami disrupsi. Valuasi zaman sekarang berangkat dari bobot orang dan mimpi-mimpi yang dibangun. Investor datang karena terbayang akuisisi pengguna, yang berasal dari delapan penjuru mata angin di muka bumi.

Ketiga, usai perhelatan pemilihan presiden, kita agak terbelah. Kembalilah pada sila ketiga: persatuan Indonesia. Polaritas tak perlu dilanjutkan dengan tajam. Semua anak bangsa. Kita pernah membangun kesadaran bernegara dengan berbagai gerakan pemuda masa kolonial.

Kita telah diuji dengan tragedi bangsa, baik 65 maupun 98. Fase-fase besar itu berat, penuh darah, meninggalkan trauma dan beban sejarah. Dan, nyatanya sampai 74 tahun, kita bertahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini karunia luar biasa.

Mari tengok tetangga dan sahabat, negara- negara di luar kita. Yang telah terbelah karena primordialisme, atau kesempitan berfikir atas kuasa aset dan properti negara. Saya menyaksikan sebuah pergulatan di berbagai tempat, daerah konflik dan damai. Lalu tersadar: Indonesia negeri indah luar biasa. Besar, luas, kaya raya.

Keempat, kontribusi pada level masing- masing. Ada di mahasiswa, kesadaran sebagai anak muda. Millenial adalah potensi, jumlahnya puluhan juta. Bahkan, yang lahir di atas 95 adalah centennial, mereka penggerak negara bangsa yang sebenarnya. Masa depan ada di sana.

Bila yang ada di forum ini adalah Anda, para milenial dan centennial, maka Indonesia 10 tahun lagi adalah milikmu. Wajah negeri ini ada di teman-teman. Industri kreatif jalannya, yang berbasis teknologi dan bervisi global. Dengan tetap bertindak lokal.

Kontribusi sesuai level. Mencapai sukses dengan cara dan metode yang paling dipahami, gunakan media sosial dengan maksimal. Namun, paling utama, adalah punya mimpi terbesar.

Berani bermimpi dulu.

 

Usia 74 tahun itu dahsyat. Serasa tak sadar, bangsa yang pernah diguncang 1965, diremukredamkan pada 1998 dan berbagai konflik lokal setelahnya. Sampai 2019 masih kokoh dalam satu ikatan. Mari dalam sepi, lafalkan satu bait Fatihah. Agar ruh para syuhada kemerdekaan mendapat ampunan Allah, dan jariyah mereka berupa kemerdekaan berlipatganda.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 74.

Merdeka…!!!

Tinggalkan Balasan