Ibrahim, Muslimin, dan Intelektualitas

By | Juli 31, 2019

 

Hari Raya Idhul Adha akan segera tiba. Ingatan kita kembali ke Nabiyullah Ibrahim ‘alayhis salam. Yang harus menomorsatukan Allah di atas segalanya. Membuatnya ikhlas jika harus berpisah dengan Ismail ‘alayhis salam, putra kandungnya sendiri.

 

Apa yang Alquran bilang tentang Ibrahim ‘alayhis salam? Wah, banyak. Setidaknya nama Nabi Ibrahim 63 kali disebut di Alquran. Di kesempatan ini kita akan bahas tiga poin saja.

 

Yang pertama adalah tentang kita, tentang Muslimin.

 

Yang kedua adalah tentang intelektualitas Muslimin.

 

Yang ketiga adalah tentang intelektualitas Ibrahim ‘alayhis salam.

 

Yang pertama adalah tentang kita, tentang Muslimin. Alquran menyebutkan di Surah al-Hajj 22:78, ayat yang terakhir sebelum pindah ke surah ke-23, _millata abiikum ibraahiima huwa sammaakumul muslimiin._ Agama ayahandamu Ibrahim, Allah memberi nama kalian semua Muslimin. Jadi nama Muslimin ini sudah ada sejak dulu. Sejak jaman Nabi Ibrahim ‘alayhis salam.

 

Kadang-kadang ada anak-anak yang bertanya, kenapa saat shalat, di Tahiyat, kita membaca shalawat atas Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim? Bukankah Islam itu agama Nabi Muhammad? Mengapa ada Nabi Ibrahim di situ?

 

Surah al-Hajj 22:78 menjelaskan, agama kita adalah agama Nabi Ibrahim ‘alayhis salam, dan nama Muslimin sudah ada sejak dulu. Sejak jaman nenek moyang kita, Ibrahim ‘alayhis salam.

 

Yang kedua adalah tentang intelektualitas Muslimin. Alquran menyiratkan bahwa Muslimin adalah orang-orang yang cerdas. Kok bisa? Dasarnya apa?

 

Al-Baqarah 2:130. _Wa man yarghobu ‘an millati ibraahiima illaa man safiha nafsah_. Siapa yang berpaling dari agama Ibrahim ‘alayhis salam, tidak lain adalah dia yang membodohi dirinya sendiri _(make a fool of himself)_. Lawannya bodoh apa? Cerdas. Maka siapa yang mengikuti agama Ibrahim, dia adalah orang yang cerdas.

 

Jadi kalo ada orang-orang yang bilang bahwa Muslimin itu bodoh, santai saja. Kan pedoman kita Alquran. Kata-kata yang kita pegang ya kata-kata di Alquran. Bukan kata-kata mereka. Dan Alquran sudah menegaskan bahwa yang bodoh adalah yang tidak mengikuti agama Ibrahim ‘alayhis salam.

 

Yang ketiga adalah tentang intelektualitas Ibrahim ‘alayhis salam. Muslimin aja cerdas, apalagi ayahanda yang diikuti oleh Muslimin, yaitu Nabiyullah Ibrahim ‘alayhis salam. Tentu cerdas juga. Gurunya orang-orang yang cerdas malah.

 

Salah satu indikator kecerdasan adalah rasa ingin tahu _(curiosity)._ Nabi Ibrahim penasaran. Beliau ingin tahu bagaimana caranya menghidupkan orang mati. Maka beliau bertanya kepada Allah, _rabbi arinii kayfa tuhyil mawtaa_ (QS Al-Baqarah 2:260).

 

Allah tidak langsung menjawab keinginan ini. Tapi justru di sini lah terletak keindahan Alquran yang membuat kita terkesima. Terjadi sebuah dialog yang indah antara Ibrahim ‘alayhis salam dengan Rabb-nya.

 

Allah balik bertanya, _awalam tu’min_. Allah menanyakan apakah Nabi Ibrahim belum percaya, bahwa terlalu mudah bagi Allah untuk menghidupkan orang yang mati.

 

Dialog berlanjut. Nabi Ibrahim menyambung, _balaa walaakin liyathmainna qalbii_. Nabi Ibrahim sudah percaya, tapi ingin supaya hatinya tenang dan tambah mantap.

 

Maka barulah setelah itu Allah memberitahukan caranya. _Fakhudz arba’atan minaththayr._ Nabi Ibrahim diminta mengambil empat ekor burung. _Fashurhunna ilayk._ Lalu mencincangnya. _Tsummaj’al ‘alaa kulli jabalin minhunna juz-an_. Kemudian meletakkannya di atas masing-masing bukit satu bagian. _Tsummad’uhunna ya’tiinaka sa’yan_. Kemudian memanggil mereka, pasti mereka datang kepada Nabi Ibrahim dengan segera.

 

Apa _’ibrah_ yang bisa kita petik dari kejadian ini?

 

Rasa ingin tahu kita. Seberapa besar rasa ingin tahu kita akan pesan-pesan Allah di dalam Alquran? Seberapa besar keinginan kita untuk hidup dengan senantiasa berpedoman kepada ayat-ayat-Nya?

 

Intelektualitas juga dihubungkan dengan pendidikan. Mereka yang kuliah S1, S2, S3, apalagi lulus ujian akhir dengan _cumlaude_, dianggap memiliki intelektualitas yang tinggi.

 

Nabi Ibrahim mengalami serangkaian ujian, bahkan bukan dari seorang dosen, tapi dari Allah langsung, dan dinyatakan lulus dengan _super super cumlaude_. Ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah 2:124. _Wa idzibtalaa ibraahiima rabbuhuu bikalimaatin fa-atammahunna._ Allah sendiri yang memberikan penilaian bahwa Nabi Ibrahim lulus dengan sempurna. _Fa-atammahunna._

 

Bahkan lanjutan dari ayat itu menunjukkan ciri-ciri intelektualitas yang lain. Yaitu tidak berpikir untuk diri sendiri, melainkan untuk _next generation_. Ketika Allah bilang, _innii jaa’iluka linnaasi imaaman_. Maka Ibrahim ‘alayhis salam menjawab, _wa min dzurriyyatii_. Tidak ingin Nabi Ibrahim dirinya sendiri yang jadi imam. Beliau inginkan kepemimpinan itu juga dari anak cucu beliau.

 

Berpikir _next gen_ ini kita dapati juga saat ini. Contohnya adalah himbauan untuk tidak menggunakan kantong plastik hitam untuk daging kurban. Menggantinya dengan kantong plastik dari singkong yang lebih ramah lingkungan. Biar anak cucu kita tidak mewarisi lingkungan yang tercemar.

 

Intelektualitas Nabi Ibrahim bahkan tercermin dari sindiran beliau kepada kaum kafir yang cenderung menuhankan benda-benda. Melihat bulan yang indah, lantas menganggapnya tuhan. Melihat matahari yang sinarnya terang benderang, lantas menganggapnya tuhan. Nabi Ibrahim merasa perlu untuk menyindir mereka. Begitu sang waktu berjalan mendekati Maghrib, matahari perlahan menghilang. Tuhan kok lenyap. Tuhan itu selalu ada. Tuhan tidak mungkin lenyap. Sedetikpun.

 

Intelektualitas Abul Anbiya’ perlu kita pelajari lebih jauh. Dari kisah-kisah tentang Nabi Ibrahim di Alquran.

 

Belum lama ini saya bertemu dengan seorang anak muda. Seorang insinyur mesin lulusan University of Technology Sydney. Suatu hari dia sedang mempelajari Surah Ibrahim. Surah keempatbelas di Alquran. Entah kenapa, dia tidak bisa membendung air mata yang mengalir deras. Dia menangis sejadi-jadinya.

 

Dia menceritakan pengalamannya itu seusai sesi _sharing_ Surah Ali Imran 68. Sebuah ayat tentang Nabi Ibrahim juga. Yang buat saya, mengandung pesan, jangan sampai kita merasa, bahwa diri kita ini sudah dekat dengan Nabi Ibrahim.

 

Kedekatan itu sudah dijelaskan oleh Alah. _Inna awlannaasi bi ibraahiima lalladziinattaba’uuhu wa haadzannabiyyu walladziina aamanuu._ Ada tiga golongan yang dekat dengan Nabi Ibrahim: orang-orang yang meninggalkan negeri bersama Nabi Ibrahim saat itu, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam, dan orang-orang yang beriman.

 

Saya sendiri sudah beberapa kali membaca surah Ibrahim. Tapi tidak mempelajarinya secara khusus. Sejak pertemuan itu, saya memaksakan diri untuk mempelajari surah Ibrahim. Dan saya masih ingin membacanya. Lagi dan lagi.

 

Saya mengajak Anda semua untuk menjadikan Idul Adha tahun ini Idul Adha yang berbeda. Caranya? Salah satu caranya adalah membaca Surah Ibrahim. Surah keempatbelas. Masih ada dua minggu sebelum tanggal 11 Agustus.

 

Semoga kita termasuk golongan yang dekat dan makin dekat dengan Ibrahim ‘alayhis salam. Semoga kita makin dekat dengan Alquran. Semoga Allah izinkan kita untuk mengalami perasaan kedekatan yang berbeda, dengan Nabiyullah Ibrahim, dengan Allah, di lebaran haji tahun ini.

Tinggalkan Balasan