Mengenal Penyembuhan Luka Berdasar Warna

Warna seringkali dijadikan tanda ataupun peringatan akan sesuatu. Sebut saja lampu lalu lintas ataupun tanda kegawatan. Warna juga dapat digunakan untuk menilai kondisi terkini dari proses penyembuhan luka. Dari warna ini akan membuat kita hati-hati saat mengalami luka.

Warna Merah

Menurut referensi dari Hanbook of Primary Care Procedure, warna merah dapat diartikan bahwa kondisi luka dalam proses penyembuhan yang normal. Luka sedang membentuk jaringan baru/granulasi pada kondisi yang tepat. Perawatan luka pada kondisi dimana menjaga kebersihan luka, menjaga kelembapan luka dan mencuci dengan cairan infus (NaCl 0,9%). Gunakan verban atau balutan sederhana dan menambahkan salep antibiotik jika diperlukan.

Warna Kuning

Warna kuning atau kehijauan pada luka dapat menandakan eksudat dan terkumpulnya bakteri/mikroorganisme pada luka. Luka yang mayoritas berwarna kuning ini sering disebut luka bernanah, kondisi luka ini adalah luka yang terkontaminasi dan juga berupa jaringan mati. Perawatan pada kondisi ini dianjurkan adalah pengangkatan jaringan mati berwarna kuning atau pengeluaran cairan yang tertimbun pada luka dengan menggunakan balutan modern atau pengangkatan manual.

Warna Luka Hitam

Warna ini yang sangat perlu anda waspadai. Luka berwarna kehitaman adalah pertanda luka mengalami kematian jaringan (Nekrosis). Luka nekrosis kehitaman ini terjadi akibat supplai darah dan oksigen terhambat menuju luka, akibatnya mengalami kematian jaringan. Jaringan nekrosis ini harus segera diangkat, jika tidak maka akan memicu terjadinya infeksi ataupun menghambat penyembuhan luka disekitarnya. Pengangkatan jaringan mati ini dapat menggunakan balutan modern atau pengangkatan manual.

Sumber :
Springhouse. 2002. Handbook of Primary Care Procedure. Us : Springhouse

Advance tissue

Maggot Therapy dan Perawatan Luka Modern

Luka diabetes merupakan masalah besar yang harus diatasi setiap penderitanya. Perawatan luka diabetes sebenarnya memiliki tujuan utama yaitu meningkatkan kualits hidup, motivasi, percepatan penyembuhan, mengurangi biaya perawatan yang mahal, mengurangi resiko amputasi ataupun infeksi. Pada penderita diabetes, fungsi persyarafan tepi dan pembuluh darah rawan mengalami kerusakan. Akibatnya jika mengalami luka bahkan tidak terasa sama sekali bagian tubuh sedang mengalami luka tersebut akibat kerusakan fungsi persyarafan. Belum lagi rusaknya pembuluh darah sekitar yang akan memperlama proses penyembuhanluka.

Maggot Therapy
Sekian banyak pusat diabetes dan perawatan khusunya diabetes di dunia untuk menemukan metode paling pas dan efisien untuk perawatan luka. Selain balutan modern, terapi lain seperti Maggot Therapy kian menjadi pembicaraan.

Maggot Therapy/ Maggot Debridement Therapy merupakan terapi menggunakan larva belatung (Green Bottle Fly/ Lucilia sericata) untuk mengangkat jaringan mati seperti slough, nanah yang mengering, nekrotik dll tanpa membuat jaringan sehat terserang. Larva ini dikembangkan dan dijaga pada kondisi tertentu agar larva tetap dalam kondisi steril.

Prosedur Pelaksanaan Maggot Therapy
Kulit disekitar permukaan luka yang sehat di batasi dan dilapisi dengan balutan hidrokoloid. Hal ini dilakukan untuk mencegah enzim proteolitik dari belatung yang mampu merusak jaringan sekitar khusunya jaringan yang sehat. Kemudian, Larva ditempatkan pada luka dan ditutup dengan net/jaring-jaring khusus agar larva tidak keluar dari luka yang diterapi. Kemudian larva dan net tersebut dibalut dengan kassa lembab yang diganti setiap sehari sekali untuk mencegah kondisi luka kering. Kassa yang lembab ini dianjurkan untuk diganti setiap hari.

Penggantian larva ini dilakukan seminggu sekali setelah larva dewasa diangkat menggunakan pinset dan juga diguyur dengan larutan NACL 0,9%. Penggunaan larva ini dapat digunakan hingga luka memasuki fase granulasi. Setelah memasuki fase ini, terapi menggunakan larva dihentikan dan beralih menggunakan balutan modern yang sesuai.

Indikasi Penggunaan
Pada tahun 2004, US Food Drug Administration mulai memberikan ijin penggunaan larva belatung ini untuk digunakan pada luka nekrotik, gangeren, ulkus vena, ulkus kaki neuropatik, ataupun luka pasca bedah non penyembuhan.

Cara Larva Bekerja pada Luka
Pertama, debridemen atau pengangkatan jaringan mati. Dengan adanya enzim proteolitik yang dikeluarkan oleh larva, jaringan mati /nekrotik yang terangkat lebih akurat dan menyesuaikan dengan bentuk luka daripada pembedahan karena menjangkau daerah-daerah yang lebih sempit. Selain itu, larva ini dapat menyerap pus/nanah, infeksi, cairan dll pada luka.

Kedua, pencucian luka. Pencucian luka disini berkaitan dengan cairan yang digunakan untuk mencuci luka khusunya pada luka yang telah terpapar infeksi. Beberapa mikroorganisme penyebab infeksi pada luka mengalami resisten (kebal/tak mempan) akan antibiotik tertentu. Tentunya jika tidak teratasi, infeksi akan menyebar ke seluruh tubuh.

Pada awal tahun 1957, faktor antibiotik tertentu ditemukan pada enzim larva belatung dan diterbitkan dalam jurnal Nature.Secretions diyakini memiliki spektrum luas aktivitas antimikroba termasuk allantoin, urea, asam fenilasetat, phenylacetaldehyde, kalsium karbonat, enzim proteolitik, dan banyak lainnya. Bakteri tidak dibunuh oleh sekresi ini kemudian tertelan dan segaris dalam belatung.

Source :

Knowles Et all. 2002. Management of a diabetic foot ulcer using larval therapy. US: worldwidewounds.com.

Image :
http://www.worldwidewounds.com/
http://www.btmcl.com/eng/