Bladder Training, Cara Mudah dan Murah untuk Mengatasi Kesulitan Mengontrol BAK pada Lansia

Masalah yang sering dijumpai pada lanjut usia adalah inkontinensia urin. Inkontinensia
urin merupakan keluarnya urin yang tidak terkendali dalam waktu yang tidak dikehendaki tanpa
memperhatikan frekuensi dan jumlahnya yang akan menyebabkan masalah sosial dan higienis
penderitanya. Selain masalah sosial dan hieginis inkontinensia urin mempunyai komplikasi yang
cukup serius seperti infeksi saluran kemih, kelainan kulit, gangguan tidur, problem psikososial
seperti depresi, mudah marah dan terisolasi (Setiati, dkk, 2007). Inkontinensia urin merupakan
masalah yang belum terselesaikan pada lanjut usia. Inkontinensia urin pada lanjut usia dapat
menimbulkan masalah baru bagi lanjut usia, oleh karena itu inkontinensia memerlukan
penatalaksanaan tersendiri untuk dapat diatasi (Purnomo, 2008).

Latihan Kandung Kemih (bladder training) pada Lanjut Usia Menurut Setiati, dkk (2007)
dan Maryam, dkk (2008) telah dikenal beberapa terapi dalam penatalaksanaan pasien dengan
inkontinensia urin. Intervensi perilaku akan berhasil jika pasien mempunyai motivasi untuk
sembuh dan dukungan keluarga serta lingkungan sekitar. Secara umum strategi meliputi edukasi
pada pasien atau pengasuh pasien (caregiver). Pasien harus paham terlebih dahulu tentang
intervensi perilaku yang akan dilakukan.

Latihan kandung kemih (bladder training) merupakan terapi nonfarmakologi yang efektif
dibanding terapi yang lainnya. Dengan melakukan latihan kandung kemih yang baik akan
membantu penderita inkontinensia urin dalam jadwal berkemih sehingga menurunkan frekuensi
berkemih. Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal dengan berbagai
teknik distraksi atau teknik relaksasi sehingga frekuensi berkemih dapat berkurang, hanya 6-7
kali per hari atau 3-4 jam sekali. Penderita diinstruksikan untuk berkemih pada interval waktu
tertentu, mula-mula tiap jam, selanjutnya interval berkemih diperpanjang secara bertahap sampai
penderita ingin berkemih setiap 2-3 jam. Akan tetapi, sekali lagi ditekankan bahwa ini hanya
berhasil bila ada motivasi yang kuat dari penderita untuk berlatih menahan keluarnya urin dan
hanya berkemih pada interval waktu tertentu (Syarief, 2008 dalam Prasetyawan, 2011).

Menurut Maryam, dkk (2008) tujuan dari latihan kandung kemih (bladder training)
adalah sebagai berikut ; a) Untuk melatih seseorang mengembalikan kontrol miksi (kemampuan
berkemih) dalam rentang waktu 2-4 jam, b) Agar klien dapat menahan kencing dalam waktu
yang lama, c) Mempertahankan klien tetap dalam kondisi kering, d) Mencegah inkontinensia
urgensi, e) Memberikan rasa nyama. Tujuan akan tercapai jika lanjut usia mempunyai motivasi
untuk melakukan latihan kandung kemih dalam waktu yang telah ditentukan.

Bladder training dapat meningkatkan jumlah yang dapat ditahan oleh kandung kemih dan
dapat mengontrol bila terjadi urgency. Cara memulai latihan kandung kemih adalah segera pergi
ke toilet ketika merasa ingin buang air kecil dan tunggu lima menit sebelum buang air kecil.
Kemungkinan tidak akan mudah saat melakukan untuk pertama kalinya. Pelan-pelan saja untuk
memulainya, tunggu jarak periode antara lima ke sepuluh menit. Jumlahkan menit sampai tiga
puluh menit. Kosongkan kandung kemih ketika kandung kemih terisi penuh. (Setyawati, 2008
dalam Prasetyawan, 2011).

Latihan kadung kemih akan berhasil jika motivasi dari lanjut usia tinggi dan dukungan
dari orang-orang disekitar cukup baik (Syarif, 2008 dalam Prasetyawan, 2011). Menurut Kozier
(1995) dalam Nursalam (2008), metode bladder training meliputi ; 1) anjurkan lanjut usia untuk
buang air kecil pada waktu yang dijadwalkan, karena hal ini akan meningkatkan tonus otot
kandung kemih dan kontrol volunter, 2) interval jadwal berkemih dapat diperpanjang jika lanjut
usia mampu mengontrol berkemihnya, 3) satu setengah jam sebelum miksi dan dua jam sebelum
tidur berikan minum sebanyak 150-200 ml, 4) hindarkan minuman yang mengandung stimulan
seperti teh, kopi, dan minuman berakohol, 5) berikan motivasi kepada lanjut usia dengan
memodifikasi tingkah laku dan libatkan keluarga dalam perawatan lanjut usia. Metode ini akan
berhasil dengan dukungan dan motivasi dari keluarga

Leave a Comment