Perawat adalah Sahabat

Perawat adalah sahabat. Bagi sebagian orang pernyataan ini mungkin terlalu idealis. Seidealis jargon yang sering diucapkan tokoh kartun sepak bola dari Jepang, Tsubasa Ozora, “Bola adalah Teman”. Ketika anak laki-laki yang dulunya menggemari serial Captain Tsubasa telah beranjak dewasa, jargon tersebut sering dijadikan olok-olok. “Bola adalah teman? Yang benar saja? Sepak bola kan yang penting adalah mencetak gol!” Mereka jadi lebih realistis.

Olok-olok tersebut juga terjadi di dunia keperawatan. Pencarian Madeline L. Leininger, pencetus transcultural nursing, terhadap apa yang membedakan perawat dari dokter pada pertengahan tahun 1950-an berujung pada kesimpulan bahwa yang menjadi esensi dan domain utama dari keperawatan adalah ‘care’. Namun pada saat itu, ternyata banyak perawat yang menolak ide ini. Mereka berpikir ‘care’ tidaklah penting karena terlalu feminin, terlalu lembut, terlalu samar, dan tidak diterima oleh dunia kedokteran.

Jika bukan ‘care’, lantas pola pikir apa yang mereka gunakan? Sampai sekarang masih banyak perawat memiliki pola pikir ‘cure’ atau menyembuhkan. Hal itu bisa kita lihat dari anggapan bahwa aktivitas utama di ruangan adalah pemberian obat. Padahal sejatinya itu adalah domain dokter, dan perawat hanya menjalankan tugas limpah atau intervensi kolaborasi. Justru intervensi mandiri perawat belum banyak muncul. Ketika para ners muda di ruangan, mempelajari penyakit, obat-obatan, dan prosedur medis rasanya lebih menarik ketimbang bagaimana menerapkan intervensi mandiri perawat. Padahal seseorang tidak akan pernah menjadi ahli di bidang yang bukan domainnya. Karenanya, perawat harus bisa mengembangkan bidang ilmunya sendiri hingga bisa menjadi spesialis di luar domain medis.

Kita harus mengubah pola pikir bahwa dokter lebih baik daripada perawat, atau bahwa ‘cure’ lebih penting daripada ‘care’. Mau diakui atau tidak, keduanya sama-sama pentingnya. Analogi tentang ‘cure’ dan ‘care’ ini ibarat perbandingan antara ‘mencetak gol’ dan ‘bermain cantik’ dalam pertandingan sepak bola. Jika ingin sekedar menang, cetak saja sebiji gol, lalu tumpuk pemain di garis belakang di sisa waktu. Namun, apakah penonton akan puas dengan permainan seperti itu? Tidak! Sebaliknya, jika hanya ingin bermain cantik tapi tak kunjung mencetak gol, apakah lantas bisa membuat penonton puas? Juga tidak! Begitu juga antara dokter dan perawat. Tugas dokter adalah mengobati, dan tugas perawat adalah merawat. Dan ketika merawat, perawat tidak cukup menjalankan tugas limpah dari dokter dengan memberikan obat. Lantas, apa yang dimaksud dengan ‘merawat’?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman klinik selama profesi. Sebagai ners muda tentu saya dan teman-teman mengikuti rutinitas di ruangan, dan setiap ruangan memiliki budaya yang berbeda-beda. Meskipun begitu, ada satu budaya yang saya temukan ada di semua ruangan, yakni budaya “ndang wis ndang bar” atau “segera disudahi, segera diselesaikan”. Apapun pekerjaannya, baik itu injeksi obat, rawat luka, pasang infus, ganti cairan, menulis dokumentasi keperawatan, dan lain sebagainya harus dilakukan secara cepat. Setelah itu? Istirahat. Bagi ners muda, waktu istirahat adalah saat untuk mengerjakan tugas, mengkaji pasien, dan segala macam. Itu pun juga masih dengan pola pikir “ndang wis ndang bar”. Pokoknya harus segera selesai agar istirahatnya bisa lebih lama, itu alasannya. Namun, dari sekian mahasiswa yang pernah sekelompok dengan saya, ada seorang kawan yang cukup menarik. Saat ners muda yang lain berkumpul dan ngobrol di suatu tempat, kawan saya yang satu ini menghilang entah kemana. Usut punya usut, ternyata dia memilih menghabiskan waktu di tempat pasien, sampai ada kawan saya yang lain berkomentar, “ini si fulanah kok ribet sendiri sih.” Mengapa dibilang ribet sendiri? Karena bagi sebagian perawat, masih berada di area pasien saat waktu istirahat dianggap tidak menerapkan budaya “ndang wis ndang bar”. Kalau saat istirahat ya istirahat saja, tidak usah berlama-lama di tempat pasien, begitu pikir mereka.

Bagi saya, tidak ada yang salah dengan tindakannya. Bahkan saya menganggapnya sebagai tindakan perawat sejati. Kawan saya inilah gambaran nyata dari pernyataan “perawat adalah sahabat”. Saya selalu iri dengan mereka yang bisa nyaman di samping pasien, dan membuat pasien nyaman dengan keberadaan mereka. Menjawab pertanyaan sebelumnya, inilah definisi ‘merawat’ yang saya maksud. Tentu kita tidak bisa terus menerus berada di samping satu pasien, apalagi jika jumlah pasien dalam ruangan sangat banyak. Tetapi keep in touch dengan satu dua pasien secara mendalam lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena seperti prinsip holistik, selain merawat fisik, kita juga harus merawat psikis, sosial, dan spiritual.

Tentang definisi dari saya di atas, kita bisa merujuk pada salah satu indikator kinerja perawat. Dalam Nursing Activity Scale (NAS) tindakan seperti berada di tempat tidur pasien dengan alasan tertentu memiliki poin lebih besar daripada tindakan semisal pengobatan (5,6), rawat luka (1,8), bahkan prosedur ‘berat’ seperti resusitasi jantung paru atau RJP (7,1). Hadir di samping tempat tidur pasien dan aktif selama dua jam atau lebih dengan alasan keamanan, beratnya penyakit, atau terapi bernilai 12,1. Bahkan, nilai terbesar (32,0) diberikan ketika perawat memberikan dukungan dan perawatan kepada keluarga pasien semisal ada keluarga yang bermasalah dengan bahasa atau ada konflik pengambilan keputusan. Poin besar lain pun diberikan kepada perawat atas tugas mandiri mereka, dan bukan tugas limpah dari dokter.

Selain itu, jika kita membuka salah satu dari tiga ‘kitab’ Nursing Trilogy, yakni Nursing Intervention Classification (NIC), ada banyak tindakan yang bisa dilakukan oleh perawat di luar tugas limpahan dari dokter. Lagipula, ada beberapa intervensi yang menegaskan bahwa perawat memang seharusnya menjadi sahabat pasien, misalnya: Humor (Domain 3: Behavioral, Class R: Coping Assistance, Intervention 5320: Humor). Kira-kira, profesi apa yang menjadikan humor sebagai sebuah intervensi yang evidence based? Saya kira perawat adalah satu-satunya. Namun, berapa banyak perawat yang menggunakan Humor sebagai intervensi keperawatan? Sepertinya tidak banyak. Itu karena pola pikir ‘cure’ masih melekat kuat di benak kita, sehingga kita berpikir bahwa memberikan obat itu adalah sesuatu yang keren, sedangkan tindakan seperti Humor adalah intervensi yang tidak berguna.

Kita perlu menyadari bahwa durasi perawat bertemu pasien adalah sebuah keunggulan perawat yang tidak bisa ditandingi oleh profesi apapun. Hal ini seharusnya menjadi peluang untuk mengembangkan keunggulan kompetitif kita, yakni bagaimana kita berlomba-lomba untuk membuat pasien nyaman sehingga menjalani pengobatan mereka tanpa beban. Dan yang terpenting, bagaimana keberadaan kita bermakna bagi pasien. Karena perawat adalah sahabat. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi sahabat yang baik bagi pasien?

Leave a Comment