Pasien adalah Guru

Ada perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran pada program sarjana dengan program profesi di rumpun ilmu kesehatan, khususnya keperawatan dan kedokteran. Setelah menyelesaikan tahap akademik di kelas dan laboratorium, kita masih harus menempuh satu tahapan lagi, yakni tahap pendidikan profesi di klinik, di mana kita akan berhadapan dengan pasien dan masyarakat secara langsung.

Selama menempuh pendidikan profesi, kita akan belajar bahwa sumber ilmu tidak hanya bisa didapatkan dari buku teks atau pemaparan dosen. Justru keduanya hanyalah saripati dari ilmu yang berada di masyarakat, dan nantinya harus kita kembalikan dalam bentuk manfaat nyata bagi mereka. Teori yang kita pelajari di kelas hanya sebagai pengantar untuk memahami berbagai permasalahan yang ada. Di kehidupan nyata, segalanya akan jauh lebih kompleks.

Pasien

Ilmu keperawatan dan kedokteran tidak akan berkembang tanpa keberadaan pasien. Mereka memberi kita ilmu dari penyakit yang mereka derita, dari keluhan yang mereka rasakan, dan dari respon yang mereka tunjukkan. Sehingga, sangat tepat jika ada yang mengatakan bahwa pasien adalah guru. Guru yang memberi kita kesempatan untuk mengembangkan keilmuan melalui objek yang melekat pada diri mereka.

Pada fase akademik, kita memang sudah belajar tentang keterampilan merawat pasien. Namun, sebagian besar masih dilakukan pada manekin atau benda mati. Sehingga jika terjadi kesalahan, tidak akan ada risiko. Risiko paling buruk adalah mendapatkan nilai rendah dari dosen. Berbeda dengan pendidikan profesi, kita melakukan tindakan pada manusia yang memiliki perasaan dan emosi, dengan keragaman karakter yang mereka miliki. Karenanya, prinsip “primum non nocere” atau “first do no harm” harus benar-benar diterapkan. Jangan sampai pasien merasa bahwa mereka dijadikan kelinci percobaan. Hal ini menuntut kita untuk belajar lebih banyak, berperilaku santun, dan memiliki sikap yang baik. Karena kita telah berjanji untuk mengutamakan keselamatan pasien, dengan tidak membeda-bedakan mereka berdasarkan kelompok, golongan, agama, suku, maupun afiliasi politik.

Pasien adalah guru, dan guru yang tidak hanya memberi ilmu, namun juga memberi penilaian. Di program profesi, nilai kita bukan hanya yang tertera pada transkrip, melainkan penilaian pasien itu sendiri. Kepuasaan pasien berarti nilai A bagi kita, sedangkan kekecewaan mereka mengindikasikan sebaliknya. Oleh karenanya, ada tuntutan untuk terus mengembangkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) agar kita dapat memberikan layanan yang terbaik bagi pasien.

Klien

Dalam Undang-undang No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, hampir tidak ditemukan istilah “pasien”. Istilah yang banyak digunakan adalah “klien”. Klien memiliki makna yang lebih luas daripada pasien. Hal ini merupakan konsekuensi dari definisi pelayanan keperawatan yang tidak hanya ditujukan kepada individu, namun juga keluarga, kelompok atau masyarakat; serta tidak hanya merawat yang sakit, namun juga mereka yang sehat.

Kerjasama antara institusi pendidikan tenaga kesehatan dengan rumah sakit dan/atau institusi layanan kesehatan lainnya memiliki tujuan agar mahasiswa pendidikan profesi memiliki pemahaman tentang konsep pelayanan secara utuh. Di rumah sakit misalnya, mereka akan bertemu pasien sekaligus keluarganya yang juga merupakan klien layanan kesehatan; serta menyaksikan secara langsung bagaimana layanan kesehatan tersebut diberikan.

Keberadaan keluarga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Karena keluarga adalah klien yang paling memiliki kepentingan terhadap kesehatan pasien, setelah individu pasien sendiri. Sehingga tidak perlu heran jika mereka menghendaki pelayanan terbaik, yang diungkapkan dalam aneka ragam bentuk, bisa positif atau negatif. Ini menjadi pelajaran penting bagi tenaga kesehatan, khususnya mahasiswa profesi, untuk terus mengembangkan keterampilan berkomunikasi, agar keluarga pun puas dengan layanan yang diberikan.

Mengapa kepuasan klien menjadi sangat penting? Karena layanan kesehatan merupakan salah satu bentuk layanan jasa, di mana mutu layanan menjadi yang utama. Sebagai mahasiswa profesi, kita mungkin belum bisa memberikan layanan yang terbaik. Karenanya, kesempatan belajar yang diberikan oleh klien maupun institusi kesehatan harus kita manfaatkan seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu layanan kita, sehingga kita mampu bersaing di era yang serba kompetitif.

Meskipun kita masih belajar, sangat penting untuk mengetahui prinsip-prinsip saat akan merawat pasien. Pada tahun 2001, Institute of Medicine (IOM) merilis laporan berjudul “Crossing the Quality Chasm: Health Care in the 21st Century”. Di dalamnya terdapat enam dimensi yang menjadi acuan untuk menjaga kualitas layanan, yakni: Safe, Timely, Efficient, Effective, Equitable, dan Patient-Centered (STEEEP).

Safe berarti kita mencegah terjadinya cedera yang disebabkan perawatan yang sebenarnya bertujuan untuk menolong mereka. Ini sesuai prinsip first do no harm yang saya sebut di awal. Timely adalah bagaimana kita mengurangi masa tunggu atau keterlambatan penanganan yang dapat membahayakan klien. Kita dapat bekerja secara efektif (effective) dengan menerapkan prosedur yang sudah evidence based. Artinya, tindakan kita harus memiliki dasar kuat, bukan sekedar “coba-coba berhadiah”.

Kita juga harus bisa bekerja secara efisien (efficient). Sebisa mungkin kita harus menghemat sumber daya, baik itu peralatan, bahan habis pakai, pikiran, hingga energi. Equitable berarti kita tidak membeda-bedakan kualitas layanan berdasarkan karakteristik personal, misalnya merawat dengan sungguh-sungguh pasien kelas sementara bekerja sekadarnya untuk pasien bangsal. Dan terakhir, patient-centered yang mengharuskan kita untuk menjadikan pasien sebagai fokus utama. Kita harus responsif terhadap kebutuhan pasien, serta menghormati apa yang menjadi preferensi pribadi masing-masing.

Sebentar lagi, kompetisi global akan mulai bergulir. Hanya mereka yang memiliki kualitas tinggi yang akan mendapatkan tempat. Pertanyaan, apakah kita sudah siap?

Leave a Comment