D.N.R.

Seorang laki-laki berbaju hijau masuk ke dalam sebuah ruangan penuh ranjang dan orang-orang yang berbaring di atasnya. Di tangannya terdapat selembar kertas putih. Wajahnya pucat. Ia tampak kurang istirahat. Saat ia duduk, seorang perempuan berbaju biru muda mendekat kepadanya.

“Bagaimana, dok?” tanya perempuan berbaju biru itu kepada laki-laki kurus tersebut.

“DNR Order[1].” Jawabnya tak bersemangat.

“DNR? Tapi GCS[2]-nya masih belum memenuhi lho, dok.”

“Iya, saya tahu. Beberapa refleks sarafnya juga masih merespons saat dirangsang. Tapi setelah cardiac arrest[3] tempo hari, segalanya menjadi lebih sulit.”

“Keluarganya sudah diberi tahu?”

“Saat jam berkunjung mereka akan saya beritahu. Sekalian minta surat persetujuan DNR.”

“Keluarganya pasti sangat terpukul.”

“Pasti. Soalnya pasien datang ke sini dalam kondisi baik. Hanya saja setelah operasi, yang padahal sukses, kita tidak bisa mengantisipasi terjadinya gagal jantung tersebut.”

“Dokter masih ingat pasien Radit?”

“Radit?”

“Iya. Anak Radit. Saat itu dokter baru masuk stase ICU 1.”

“Oh, pasien baru yang dulu dirawat dokter Nita?”

“Iya. Tapi setelah dokter pindah stase bersama dokter Nita, yang merawat dokter Purba. Dokter Purba saat itu setingkat dokter sekarang.”

“Ada apa dengan pasien itu?”

“Saat itu dokter Sam dan supervisor lain sudah meminta pasien tersebut di-DNR-kan juga. Tapi dokter Purba menolak. Beliau merasa yakin bisa mengembalikan kesadaran pasien. Dokter Sam sampai tersinggung karena mengira dokter Purba meragukan keputusannya.”

“Menolak keputusan supervisor?”

“Iya.”

“Wah, sakti benar! Terus bagaimana kelanjutannya?”

“Akhirnya tidak jadi dimintakan DNR, dan alhamdulillah pasiennya benar-benar sembuh. Setahu saya sekarang sudah bisa sekolah seperti anak-anak lain.”

“Tapi apakah saya perlu sampai menolak permintaan DNR dokter Sam dan supervisor lain? Ini kan sekedar meminta surat persetujuan DNR, berbeda dengan permintaan euthanasia misalnya?”

“Iya, tapi ada perbedaan saat kita merawat pasien yang sudah ditandatangani DNR-nya dengan yang belum. Dokter Purba pernah mengatakan kepada saya, ‘surat persetujuan DNR ini bisa membelokkan niat dokter spesialis sehebat apapun untuk tidak bekerja sepenuh hati’.”

“Dokter Purba berkata seperti itu?”

“Iya. Saya masih ingat sekali.”

“Jadi, saya harus bagaimana?”

“Coba telpon dokter Purba. Minta saran kepada beliau. Sudah beberapa hari kita sekuat tenaga merawat pasien ini. Saya sudah sering melihat dokter Sam meminta DNR, dan saya ikut saja karena memang kondisinya tidak bisa diharapkan lagi. Tapi untuk pasien ini, saya merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk meminta DNR. Dokter tentu lebih paham progresnya kan?”

“Benar. Baiklah, akan saya coba.”

* * *

“Dari mana kamu tahu tentang cerita itu?” tanya seseorang di ujung telpon.

“Ners Intan,” Jawab sang dokter.

“Oh, perawat itu. Ya, aku tahu. Jadi begini, untuk kondisi pasienmu, kamu yang paling paham. Apapun keputusannya semua ada di tanganmu. Tentang keputusanku dulu, itu karena aku merasa bisa merawatnya. Aku yakin pandangan para dokter supervisor salah, sehingga aku menolaknya.”

“Bagaimana caranya menolak?”

“Aku datang ke dokter Sam dan bilang minta waktu.”

“Respons beliau?”

“Menurutmu?”

“Mm…”

“Aku dimarahi. Hahaha…”

“…”

“Biasa saja lah, orangnya kan seperti itu. Tapi aku berusaha meyakinkan beliau, dan akhirnya diberi waktu satu minggu. Itulah saat-saat paling bergairah dalam hidupku. Aku merasa semua urusanku dipermudah. Aku dan para perawat benar-benar all out untuk anak Radit itu. Hingga akhirnya pada hari ketujuh dirinya sadar.”

“Dari cardiac arrest, diminta DNR, sampai akhirnya sadar, mas?”

“Iya. Bahkan kabarnya sekarang sudah sehat dan bisa sekolah. Tapi…”

“Tapi apa, mas?”

“Kasusku dulu mungkin berbeda dengan kasusmu sekarang. Jadikan ini sebagai referensi saja. Selebihnya, lihat kondisi riilnya bagaimana. Lagipula itu adalah sekalinya aku menolak permintaan ketika semua supervisor sudah sepakat. Selebihnya aku ikut mereka. Paham?”

“Paham, mas.”

“Udah, itu saja?”

“Satu lagi, mas.”

“Ya?”

“Apakah benar mas pernah bilang kalau DNR itu membuat dokter spesialis sehebat apapun tidak bekerja sepenuh hati?”

“Hahaha… Ya, aku pernah bilang begitu sih. Karena ketika pernyataan DNR sudah di tangan, sangat mungkin kita merasa sia-sia saja melakukan perawatan. Tapi itu bukan ayat-ayat kitab suci atau perkataan nabi lho. Bisa saja pendapatku salah. Yang jelas, adanya DNR kan ada tujuannya. Kita tidak bisa membiarkan pasien menderita, keluarganya juga. Belum lagi soal biaya. Semua aspek itu harus kita pertimbangkan. Kurasa itu sih.”

“Baik, mas. Terima kasih sarannya.”

“Sama-sama. Semoga sukses.”

* * *

“Dok, keluarga pasien,” Ners Intan mengingatkan.

Mereka berpandangan sejenak. Kemudian sang dokter langsung menghampiri keluarga pasien dengan tetap membawa kertas putih di tangan. Ia pun mengajak keluarga pasiennya mencari tempat yang lebih nyaman. Ners Intan melihat mereka keluar dari ruang utama ICU dengan perasaan was-was.

* * *

Setelah menemui keluarga, sang dokter bergegas ke ruang dokter Sam. Saat berada di depan pintu ruangan, ia sempat ragu. Akhirnya ia bulatkan tekad untuk masuk.

“Permisi, dok.”

“Ah, ya. Masuk. Ada apa? Sudah dapat DNR-nya?”

“Belum, dok. Justru saya ke sini untuk membicarakan hal itu.”

“Maksudnya?”

“Saya merasa belum waktunya meminta persetujuan DNR dari keluarga pasien.”

Tiba-tiba raut wajah dokter Sam berubah. Tatapan matanya tajam menatap dokter yang berada di bawah bimbingannya tersebut.

“Kamu ingin meniru si Purba ya?”

Sang dokter terkejut nama seniornya disebut. Ia bingung harus menjawab apa.

“Apa sekarang kamu juga meragukan keputusanku?”

“Mohon maaf. Bukan maksud saya seperti itu, dok. Dari hasil evaluasi saya beberapa hari terakhir menunjukkan kalau pasien ini masih memiliki harapan.”

“Kami para supervisor sudah melalui pertimbangan matang untuk meminta DNR. Jika apa yang dilakukan Purba dulu berhasil, itu karena keberuntungannya saja. Apakah kamu ingin menggantungkan urusan hidup pasien kepada untung-untungan seperti itu?”

Sang dokter hanya terdiam. Percuma ia menjabarkan hasil observasi ini dan itu. Hal itu sama saja meragukan kemampuan supervisor paling senior tersebut. Ia mulai ragu dan berniat menuruti apa kata supervisor saja. Hingga tiba-tiba…

“Satu minggu. Jika lebih dari itu kuminta DNR sudah harus ditandatangani.”

Wajah sang dokter langsung cerah. Ia sampai bingung harus berkata apa. Setelah mengucapkan terima kasih, ia meminta izin untuk kembali ke ICU.

Begitu masuk ruang utama ia langsung menemui ners Intan yang sedang merawat pasien.

“Bagaimana, dok?” tanya ners Intan masih dengan nada khawatir.

“Siap melakukan segalanya?” tanya sang dokter.

“Siap. InsyaAllah.”

“Kalau begitu, sekarang saatnya bekerja!” []


Keterangan:

  1. DNR (Do Not Resuscitate) Order adalah pernyataan pasien atau keluarganya agar tenaga kesehatan yang merawatnya tidak memberikan pijat jantung atau resusitasi saat pasien tersebut mengalami henti jantung
  2. GCS (Glasgow Coma Scale) adalah parameter untuk menilai kesadaran seseorang. Nilai normal 4-5-6 (total 15). Nilai GCS 1-1-1 adalah nilai terendah dari tingkat kesadaran manusia.
  3. Cardiac Arrest bisa diartikan sebagai henti jantung

Leave a Comment