7 Metode Kontrasepsi Non-Permanen Paling Jitu

Apakah kamu sudah menikah tapi ingin menunda memiliki anak? Atau ada yang sudah punya anak tapi ingin mengatur jarak kehamilan? Nah, Teman Sehat pasti bingung terkait alat kontrasepsi apa yang cocok buat digunakan.

Tapi sebelumnya Teman Sehat perlu tahu kalau yang dibahas di sini adalah metode non-permanen atau reversibel yang masih memungkinkan Teman Sehat hamil kembali di masa depan. Contoh yang paling umum dari metode ini adalah penggunaan kondom. Sayangnya, kondom termasuk yang kurang efektif loh!

Berikut 7 (tujuh) metode kontrasepsi non-permanen paling efektif menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC):

1. Diafragma

Metode ini diterapkan dengan memasukkan semacam alat seperti mangkuk dengan lengkung dangkal ke dalam vagina untuk menutup leher rahim (serviks). Cara kerjanya adalah menghalangi sperma masuk ke dalam rahim. Alat ini dipasang sebelum melakukan hubungan seksual, dan biasanya diterapkan bersama spermicida atau zat untuk mematikan sperma. Rasio kegagalan metode ini adalah 12%.

2. Cincin hormonal

Cincin yang digunakan dalam metode ini merupakan sebuah alat berbentuk lingkaran lentur yang bisa mengeluarkan hormon progrestin dan estogren. Cincin dipasang di dalam vagina selama tiga minggu, dan dilepas selama periode menstruasi. Jika ingin memakainya lagi, gunakan ring yang baru. Jangan sampai pakai yang lama ya karena bisa mengganggu efektifitasnya! Rasio kegagalan dari penggunaan metode ring ini adalah 9%.

3. Koyo KB

Koyo KB adalah metode yang sangat mudah digunakan. Caranya adalah dengan menempelkannya di perut bagian bawah, pantat, atau badan atas kecuali payudara. Koyo KB bekerja dengan melepaskan hormon progrestin dan estrogen ke dalam pembuluh darah. Alat ini diganti satu kali dalam seminggu dan digunakan terus selama tiga minggu. Sedangkan minggu keempat, ngga perlu menggunakan koyo demi kelancaran siklus menstruasi. Rasio kegagalan metode ini sama dengan cincin hormonal. Sebagai catatan, metode ini hanya boleh digunakan hanya sesuai petunjuk dokter. Jangan coba-coba sendiri ya!

4. Pil KB

Pil KB ini ada dua jenis: kombinasi dan mini. Pil kombinasi mengandung dua hormon, yakni progrestin dan progresteron. Sedangkan pil mini hanya mengandung progestin saja. Pil KB harus dikonsumsi setiap hari pada jam yang sama dan sesuai resep dokter. Rasio kegagalan pil KB, baik yang kombinasi dan mini adalah 9%.

5. KB suntik atau tembak

Dokter atau bidan akan menyuntikkan hormon progestin ke pantat atau lengan setiap tiga bulan. Agar hormonnya bekerja efektif, jangan sampai Teman Sehat terlambat hanya karena lupa jadwal kunjungan berikutnya. Rasio kegagalan dari kontrasepsi jenis ini hanya 6% saja. Cukup efektif, bukan?

6. Intrauterine device (IUD)

Jika KB suntik cukup efektif, metode yang satu ini jauh lebih efektif loh Teman Sehat! Tapi, metode ini hanya cocok digunakan bagi ibu yang sudah memiliki anak dan ingin mengatur jarak kehamilan, karena sifat pemasangannya yang dapat bertahan lama. Untuk jenis Copper T IUD dapat terpasang hingga 10 tahun dengan rasio kegagalan 0,8%, sedangkan jenis Levonorgestrel IUD yang dapat mengeluarkan progestin bisa terpasang hingga 5 tahun dengan rasio kegagalan 0,2%.

7. Implan

Nah, sampailah kita pada metode yang paling efektif alias cespleng di antara metode kontrasepsi yang ada, yakni metode implan. Dalam metode ini, sebuah alat seperti batang yang mengandung progrestin dimasukkan ke bawah kulit lengan atas. Masa kerja efektifnya sampai tiga tahun dengan rasio kegagalan hanya 0.05%. Cespleng ngga tuh?

Nah, Teman Sehat, itulah ketujuh jenis kontrasepsi paling efektif. Apakah Teman Sehat sudah memutuskan akan menggunakan jenis kontrasepsi yang mana?

Leave a Comment