Euforia Fatih Seferagic: Histeria Muslimah, Salahkah?

Sebagian publik sempat kecewa terhadap respon dan attitude para muslimah yang histeris tatkala hadir pada tour Fatih Seferagic yang baru-baru ini digelar di beberapa kota. Memang telah saya buktikan sendiri kemarin (16/11), animo mereka begitu luar biasa, 94.78% yang hadir adalah kaum hawa dengan busana muslimah dan hijab syar’i. Hadir di acara yang bertajuk Qurani rasanya kok tidak ada bedanya dengan menghadiri konser K-Pop atau boyband. Jeritan dan teriakan histeris dilengkapi tetesan linangan air mata sempat menjadi pemandangan umum saat sang idola naik ke atas panggung. Aksi berdesakan pun sempat tak terhindarkan.
Tentu jika sampai sepert ini, maka jelas ini keliru. Seolah identitas muslimah sejati yang selama ini dimanifestasikan melalui busana, tutur kata, sikap dan perilaku bisa kandas begitu saja hanya karena tak mampu mengelola emosi melihat hadirnya sang idola. Perasaan yang membuncah dan tak tertahankan itu seolah mampu menihilkan identitas yang selama ini telah berusaha mereka jaga. Menurut kabar, fenomena seperti ini terjadi tak hanya di momen kemarin saja. Di kajian-kajian atau tabligh akbar yang mendatangkan ustadz terkenal juga acapkali terjadi, apalagi jika ustadz yang mengisi dianugerahi paras yang terbilang ganteng, gagah dan menarik.
Kembali ke topik. Meski demikian, sebenarnya kita tak boleh serta merta menyalahkan dan mengolok-olok para muslimah yang masih bersikap seperti itu. Mestinya kita melihat mereka sebagai objek dakwah yang harus dididik dan dibina agar bisa menjadi muslimah yang baik luar dalam.
Karena memang tak semua orang bisa langsung mendapat hidayah secara kaffah dengan seketika. Butuh waktu dan proses agar mereka benar-benar bisa mencapai fase yang ideal sebagai seorang muslim. Setidaknya ada 4 fase yang biasanya dilalui seseorang sebelum mereka menjadi seorang muslim yang seutuhnya.
Fase pertama, fase hijrah. Adalah masa transformasi dari kegelapan menuju cahaya. Masih banyak sekali kekurangan diri yang harus diperbaiki. Di sini seseorang sudah mulai tumbuh kepeduliannya terhadap agamanya, dan mulai sedikit demi sedikit meninggalkan kekeliruannya menuju ke perbaikan akhlak dan ibadahnya.
Fase kedua, fase hamasah. Adalah masa semangat-semangatnya memperbaiki diri. Mulai tertarik membaca buku-buku agama, tapi terkadang juga masih sering timbul rasa malas, baik malas dalam ibadah maupun malas dalam menuntut ilmu syar’i (futur).
Fase ketiga, fase istiqomah. Adalah fase diri yang sudah mulai stabil karena telah memiliki amalan andalan untuk menjaga diri agar hati tetap dalam semangat iman dan beramal sholih.
Fase keempat, fase qudwah. Adalah mereka yang telah mampu memberikan teladan dan manfaat kepada ummat sehingga mereka dijadikan panutan dalam kebaikan. Mereka memiliki imunitas yang kuat untuk membentengi diri dari maksiat dan selalu bisa memotivasi diri untuk tetap berada pada jalan taqwa.
Bisa jadi para mbak-mbak muslimah yang hadir itu masihlah berada pada fase hijrah, yang artinya mereka butuh dididik, dinasihati, dan diminta untuk mengevaluasi diri. Bukanlah menjadi jaminan akhawat yang telah berhijab syar’i bisa terbebas dari kesalahan, sebagaimana pula tidak menjadi jaminan seorang ikhwan yang berjenggot lagi cingkrang bisa selamat dari melakukan kekeliruan.
Lalu sekarang, sudah di manakah posisi kita?
Semangat memperbaiki diri ya, supaya bisa menjadi qudwah. Saya pribadi masih belum bisa sampai ke 4 fase tersebut. Rasanya diri ini masih ada di tahap sebelum fase hijrah, yakni fase butuh hidayah. Butuh didoakan karena banyak dosa dan butuh diingatkan karena sering lupa.

Leave a Reply