Dua Nasihat dari Syaikh Akram Nadwi

If the Oceans were Ink (Carla Power)

Buku berbahasa Inggris ini saya pilih untuk dijadikan resensi sebab buku ini dapat menjawab pertanyaan yang biasanya timbul dari orang yang awam dengan ajaran Islam. Meskipun format penulisan kebanyakan berisi tanya jawab antara Carla Power (penulis buku) dan Syaikh Akram Nadwi, namun Carla dapat menyajikan diskusi tersebut serta pergulatan batinnya dengan apik dan mengalir. Gak heran, buku ini masuk nominasi Pulitzer Prize dan National Book Award di negara asalnya. Saya pribadi sering merekomendasikan buku ini untuk teman yang baru mau memperdalam ajaran Islam dan/atau memiliki pertanyaan-pertanyaan problematis, semisal poligami atau kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga.

Kisah bermula dari memori Carla semasa anak-anak. Carla kecil sering dibawa orang tuanya berlibur ke negara-negara Muslim, semisal Iran, Afghanistan, dan Mesir. Dari sana, timbul ketertarikan Carla dengan komunitas Muslim. Ketertarikan ini terus ia geluti hingga ia menjadi reporter di media terkemuka. Ia sering ditugaskan meliput hal-hal yang berbau keislaman, dari ritual hingga konflik.

Di suatu titik, ia merasa bahwa meskipun wawasannya tentang keislaman cukup banyak, namun ia sendiri sebenarnya gak terlalu paham tentang ajaran inti dari Islam itu sendiri, yaitu Quran. Carla merasa, serba-serbi keislaman sudah sering dibahas dari sudut pandang pihak luar, dalam hal ini para orientalis. Akan tetapi, suara dari dalam yang menjelaskan permasalahan tersebut acap kali gak terdengar, kalah suara dengan pemberitaan media arus utama yang notabene milik Barat. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, ia meminta kesediaan Syaikh Akram berdialog dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan sang syaikh seperti mengajar dan ikut pulang kampung ke Jamdahan, India.

Syaikh Akram sendiri merupakan ulama lulusan Nadwatul Ulama, Lucknow, India. Karya monumentalnya adalah Al-Muhaddithat berupa kumpulan biografi singkat perawi hadits perempuan dengan total ribuan orang. Beliau juga merupakan guru dari beberapa da’i. Ustadz Nouman termasuk da’i yang berguru kepada beliau, sebab dalam beberapa kesempatan Ustadz Nouman menyebut nama Syaikh Akram sebagai sumber dari materi yang tengah disampaikan. Carla pertama kali bertemu dengan Syaikh Akram di paruh awal 90-an, ketika mereka sama-sama bekerja di Oxford Centre for Islamic Studies. Mereka bertemu lagi sebagai kawan lama saat Carla mengajukan ide tentang penulisan buku berdasarkan diskusinya dengan Syaikh Akram dan Syaikh Akram menyanggupinya.

Dalam resensi kali ini, saya ingin mengetengahkan dua pelajaran dari sang syaikh yang begitu mengena untuk saya pribadi. Pelajaran pertama tentang interaksi Muslim pada umumnya dengan Quran. Pelajaran kedua tentang bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim terhadap hal yang gak disukainya.

Di awal diskusi mereka, Carla mengakui dengan malu-malu, bahwa meskipun ia sering bersentuhan dengan dunia Islam dan memiliki tiga buah Quran di rak bukunya, ia gak pernah benar-benar membacanya. Syaikh Akram berkata, “Kebanyakan Muslim juga gak pernah baca kok.” Carla terkejut sesaat, kemudian beliau melanjutkan, “kalaupun ada yang baca, mereka gak ngerti. Quran adalah alien bagi mereka. Biasanya mereka cuma baca buku fiqih atau kalau tertarik dengan ketaatan dan penyucian jiwa, mereka bakal baca Ghazali atau sufi seperti Rumi.”

Syaikh Akram juga memaparkan bahwa orang yang belajar di lembaga keislaman yang bagus sekalipun, tidak menjamin paham tentang Quran sebagaimana mestinya. Sebab, pelajaran tentang Quran seringkali merupakan bagian yang paling terbengkalai dari kurikulum madrasah. Di sisi lain, kurikulum madrasah lebih banyak menitikberatkan pada kajian fiqih dan hadits, bukan pada Quran itu sendiri sebagai inti dari ajaran Islam.

Kemudian Carla bertanya, “Kenapa kalian tidak kembali (mengkaji) ke Quran (dengan benar)?” Jawaban Syaikh Akram membuat saya tertampar sebagai Muslim, “Karena orang-orang kemungkinan malas (mengkajinya).” Ada dua alasan yang dikemukakan oleh beliau, pertama mengkaji Quran itu perlu waktu, sebab untuk memahaminya kita harus belajar bahasa Arab klasik terlebih dahulu. Alasan berikutnya adalah bagi seorang Muslim, lebih praktis langsung bertanya kepada seorang alim tentang hal-hal keislaman dibanding menelaah Quran.

Tentu bertanya pada yang ahli itu dibolehkan, namun jika dilakukan terlalu sering, maka timbangan prioritas akan kacau, seperti yang diucapkan sang syaikh, “Kamu lihat, Carla, apa yang sebenarnya terjadi adalah kami, Muslim, menghancurkan seluruh keseimbangan itu. Kita telah terobsesi dengan hal-hal mendetail nan kecil, hukum syariat. Apa yang Quran terus ulangi? Penyucian hati. Itu adalah yang penting! Kenapa memotong tangan pencuri, sesuatu yang disebutkan hanya sekali, menjadi hal yang penting bagi sebagian orang?”

Diskusi selanjutnya timbul bermula dari keheranan Carla terhadap Syaikh Akram. Kedatangan sang syaikh ke Oxford merupakan pemenuhan amanat dari gurunya di Nadwatul Ulama dan hasilnya, Syaikh Akram menghadapi hidup yang kurang menyenangkan di tahun-tahun awal kedatangannya; iklim yang berbeda, makanan yang gak sama, jauh dari keluarga, serta pekerjaan yang membosankan lagi gak menantang di kantor.

Hal ini mengundang pertanyaan sekaligus kekaguman dari Carla, bagaimana bisa seseorang bertahan atas apa yang gak disukainya? Sepanjang hidup Carla yang memegang teguh ajaran Barat, pemenuhan ambisi pribadi adalah hal yang utama. Untuk apa kita melakukan sesuatu yang bikin kita gak bahagia selama kita punya pilihan lain?

Jawaban Syaikh Akram lagi-lagi membuat Carla tercengang. Mengambil ibrah dari kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam, kondisi kita saat ini bukanlah yang utama, yang lebih utama adalah bagaimana kita bertakwa dalam berbagai situasi dan kondisi. Sebab, tugas dari Allah kepada Muslim adalah untuk bertakwa kepada-Nya, adapun situasi yang kita hadapi, seringkali terjadi di luar kontrol kita. Jadi, daripada menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan nasib kita, jauh lebih baik khawatirlah akan ketakwaan kita terhadap Allah dan manfaatkan situasi tersebut untuk meningkatkan ketakwaan. Dengan menjaga dan meningkatkan ketakwaan, maka Allah akan menolong kita mengubah situasi.

Cerita Nabi Yusuf ‘alaihissalam merupakan kisah yang bagus untuk diteladani di dunia yang sekuler ini. Dibuang ke sumur, dijadikan budak, serta dimasukkan ke tahanan gak membuat beliau mengeluh, beliau tetap yakin bahwa takdir Allah adalah yang terbaik dan malah memanfaatkan momen di penjara untuk berdakwah. Hasilnya, beliau diangkat menjadi bendahara negara dan berkumpul kembali dengan keluarga.

Syaikh Akram mengomentari bahwa Muslim saat ini seringkali terlalu berkutat dengan situasi namun lupa untuk mengurusi ketakwaannya. Bukan berarti memperbaiki situasi itu haram, namun perbaikan situasi yang tidak dilandasi dengan ketakwaan hanya akan membuat perubahan yang semu.

Contoh yang dipaparkan sang syaikh, Muslim India menginginkan berdirinya negara Islam, maka berdirilah Pakistan. Namun, setelah perjuangan panjang pendirian Pakistan, anak-anak pejuang yang terlibat malah kabur ke luar Pakistan dan ingin tinggal di Inggris sebab kondisi di Pakistan gak ideal di mata mereka. Maka, Syaikh Akram berpesan, “Saat kamu mendapati takdir yang diberikan oleh Allah kepadamu, jangan mengeluh! Belajarlah bagaimana memanfaatkannya. Berpikirlah!”

Demikian resensi buku “If the Oceans were Ink” dari saya. Semoga pada bulan Quran ini, kita bisa meningkatkan ketakwaan kita dan menjauh dari kemalasan untuk bertadabbur Quran.

Tinggalkan Balasan