Dilema Garis Takdir

Garis takdir mengajarkan kita untuk berdamai. Entah itu suratan baik atau bisa jadi garisan buruk. Dua dua nya tetap baik meski akan ada yang lebih baik. Tidak ada takdir yang tak lulus dari rencana Tuhan. Semua yang terjadi, adalah berkat campur tangan dariNya. Disadari ataupun tidak, Dia tahu arah mana yang harus engkau tempuh. Dan di sinilah garis takdir ku tengah berlangsung.

“Mama harap kamu ikutan seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) tahun ini,” pesan mama kepada ku. “Sayang ijazah mu, capek-capek kuliah cuman di rumah ngurus anak saja,” tambahnya lagi.

Ini bukan yang pertama kalinya mama “memaksa” ku untuk bekerja. Lebih kurang empat tahun perkataan yang sama diucapkan. Jauh jauh hari sebelum aku memutuskan berumah tangga.

“Kita mau nya kamu selesai kuliah kerja dulu, nyari duit sendiri dulu, mandiri,” itulah perkataan mama seminggu setelah aku selesai diwisuda. “Sayang kan ilmu nya gak terpakai, percuma dong sekolah lama lama, kalau akhirnya jadi ibu rumah tangga juga,” tambahnya lagi.

Setahun berkerja sebagai asisten peneliti di salah satu institusi pemerintahan, ku rasa cukup melepaskan tanggung jawab ku kepada orang tua. Bukan karena tidak suka, tetapi bagi ku wanita lebih baik berkaya dari balik layar di dalam rumah. Tabu rasanya jika mondar mandiri, keluyuran di luar sana demi mencari bongkahan rupiah. Itu sih menurut ku.

Makanya ketika ada proposal ta’ruf datang dari seorang ikhwan, tak sampai berpikir lama, setelah kumantapkan dengan istiqarah. Jatuh lah kini pilihan itu padanya. Garis takdir membawa ku pada perjalanan yang jauh lebih panjang dan tentunya lebih menantang.

Sebenarnya kalau mau jujur, orang tua ku masih berat untuk merestui pernikahan ini. Karena harapan mereka kepada ku yang terlalu tinggi. Mereka masih ingin aku menjadi wanita karier, bisa berdiri di kaki sendiri, tidak bergantung kepada orang lain, termasuk suami ku nantinya.

Tapi, “jika Tuhan berkata jadi, maka jadilah”. Tidak ada yang percaya dengan suratan dan garisan tangan ini. Secepat itu memutuskan menikah di tengah karier yang mulai akan menanjak. Tapi aku tidak menyesal dengan garisan ini, karena bagi ku amal terbesar sebagai wanita adalah berbakti pada suami tanpa abai terhadap orang tua. Untuk urusan rezeki aku percaya selama berusaha Allah akan membalasanya. Entah dari arah mana, tetapi akan tetap ada.

Rezeki tidak hanya berupa materi, pangkat, jabatan. Perihal kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, dan merasa cukup dengan yang ada itu adalah nikmat yang tiada tara. Mungkin bagi mereka status masih bertahta, tetapi perlahan mungkin akan ada waktu untuk menerima.

“Iya ma, insya Allah tahun ini aku coba,” ucap ku. Semoga Tuhan berikan yang terbaik tanpa mengorbakan siapapun (anak dan suami). Karena ku tau, disetiap pilihan pasti akan ada kosekuensi yang harus diterima. Mau tidak mau, suka tidak suka, itu pasti.

Dan kini, disinilah garis itu berada. Di antara pilihan dari orang tua dan pertentangan batin dari diri ku sendiri.

 

 

#Writober

#RBMIpJakarta

#ibuprofesionaljakarta

Tinggalkan komentar