Demi Bangsa yang Damai, Yuk Ngobrol “Kafir” Sambil Santai

Secara organik, manusia memiliki insting untuk menghindari atau melawan sesuatu yang terasa mengancam atau menimbulkan perasaan tidak nyaman. Ada kalanya, kita bahkan takut pada sesuatu yang asing dan belum kita kenali.

Beruntung, manusia dibekali akal sehat untuk mengalami proses berpikir dan mengendalikan diri. Kita punya kemampuan untuk meresapi, memahami, dan berupaya memaknai.

Katakanlah, kita cenderung diam dalam situasi yang aman dan homogen, seperti bersama teman dekat atau keluarga. Namun, di tengah-tengah lingkungan yang heterogen, kita membutuhkan kata-kata untuk menghindari timbulnya prasangka.

Hanya saja, kita tahu bahwa kata-kata juga dapat menjadi bahaya. Sementara dalam agama Islam, kami wajib menyelamatkan orang lain dari lisan dan tangan kami.

Karena itulah, bukan hanya tentang kampanye, tapi demi bangsa dan bumi yang lebih damai, saya merasa bertanggung jawab untuk meluruskan satu istilah yang kata orang, telah mengusik ketentraman sosial.

Sebut saja, “kafir”.

Berkat film dan sinetron, penyebutan “kafir” terasa begitu kasar dan tendensius. Sungguh muram dan membuatnya terasa kejam.

Tapi, benarkah seburuk itu? Bukankah kita sepakat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta Islam merupakan rahmat bagi semesta alam?

Maka, agar kedamaian bangsa dapat tercapai dan tidak ada lagi yang bertikai, mari kita sama-sama memasuki jeda, lalu bersantai.

Izinkanlah, saya menyampaikannya dengan lugas, tanpa candaan yang sering kali menambah runyam karena perbedaan selera humor dan salah paham.

Bismillah.

Dari mana asal kata “kafir”?

“Kafir” yang saat ini diperbincangkan, berasal dari kata Al-Kufru.

Kata kerjanya disebut kafar dengan bentuk jamak kafaruu. Dan, subjeknya disebut kaafir dengan bentuk jamak kaafiruun.

Nah, istilah “Al-Kufru” ini biasa terucap di jazirah Arab sebelum Rasulullah SAW dilahirkan. Al-Kufru berarti sesuatu yang terhalang atau tertutup hingga tidak bisa dilihat/terlihat. Dan, orang yang melakukan penghalangan atau penutupan itu disebut kaafir.

Kita ambil contoh, Popon menutup makanan dengan tudung saji agar aman dari tikus. Kata kerja “menutup”nya disebut kafar. Popon sebagai orang yang menutup, disebut kaafir.

Kata ini yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi cover.

Sampai di sini, kita bisa lihat bahwa kata kaafir memang netral dan biasa digunakan.

Kemudian {…|…} tiba saatnya Rasulullah SAW menyampaikan ajaran Islam secara terang-terangan kepada penduduk Mekkah.

FYI, orang-orang Arab pada saat itu tidak mengingkari keberadaan Allah (Q.S. 29: 61-63), tetapi mereka menyekutukan Allah dengan menyembah berhala. Mereka menyembah benda-benda untuk diyakini sebagai penghubung antara mereka dan Allah (Q.S. 39:3).

Pemahaman ini yang kemudian diluruskan oleh Rasulullah SAW agar mereka menyembah Allah semata, meyakini keberadaan dan kedekatan-Nya, meski tidak mampu dirasakan secara indrawi.

Dan, atas seizin Allah, di antara orang-orang Arab itu ada yang membuka hatinya untuk menerima wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW. Mereka yang percaya dan yakin dengan kebenaran itu disebut aamanuu, yaitu orang-orang beriman.

Namun, ada pula orang-orang yang justru “menutup” hati dan menjauhkan diri (Q.S. 6:25-26). Mereka sengaja tidak mau mendengar dan “menutup” pikiran mereka dari jalan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga, mereka seperti yang termaktub dalam Q.S. 18:101, disebut Al-Kufru, dengan kata kerja kafar, dan orangnya disebut kaafir.

Kemudian, turun firman Allah yang mengontradiksikan istilah antara orang beriman (meyakini agama Islam) dan orang kafir (menutup diri dari agama Islam) dalam Q.S. 109:1-6.

Sebagai utusan-Nya, Rasulullah SAW tentu menyampaikan firman tersebut dengan istilah yang diturunkan Allah. Namun, tidak ada penyembah berhala yang merasa tersinggung. Karena, hanya persoalan antonim.

Lagipula, jelas bahwa kata kaafir itu bersifat halus dan tidak tendensius.

Jadi, sekalipun kata “kaafir” lantas menjadi istilah dalam syariat Islam, penyembah berhala tidak pernah merasa terhina. Mereka secara sadar menutup diri dan tidak ingin menerima ajaran Islam. Mereka yakin masih mengikuti agama Nabi Ibrahim AS dan tidak ingin “akidah” mereka terhadap berhala harus terusik (Q.S. 6:136-140).

Sampai di sini, menjadi jelas tentang pengertian “kafir” dalam syariat Islam.

Maka, mari kita kembali pada garis waktu yang lebih dekat.

Problem kekiniannya, ketika “kafir” dilontarkan dengan niat melakukan penghinaan atau dalam konteks tuduhan. Terlepas kedua pihak paham makna “kafir” atau tidak, akan tetap timbul rasa sakit hati, karena yang tersampaikan bukan makna, melainkan emosinya.

Sekalipun benar, bahwa makna kata kafir hanya merujuk ke “orang yang menutup diri dari firman Allah pada Nabi Muhammad SAW”, tapi jika terucap untuk menyakiti dan membuat orang marah tentu akan jadi masalah. Padahal, kata-kata dalam dakwah harus disesuaikan dengan lawan bicara agar tidak memercik pertikaian dan mudharat yang lebih besar (Q.S 16:125).

Dengan kata lain, lebih baik diam, ketika kebaikan tidak mampu diterjemahkan.

Karena, nahi munkar juga ada akhlaknya, ada aturannya. Tidak boleh menimbulkan mudharat yang lebih besar, tidak memancing bantah-bantahan yang lebih keras, dan yang paling penting adalah niat. Apakah benar, ingin meluruskan, atau hendak menyerang orang dan kelompok lain yang berbeda pilihan.

Dan lagi, ada beberapa alasan, karena kasih sayang, ghirah, atau kebencian personal. Yang jelas, semua orang boleh salah, tapi tidak boleh bohong dan jangan memercayai kebohongan.

Namun {…|…} di atas semua itu, bangunlah kedamaian dari dalam diri kita sendiri. Tidak perlu jengah dengan label yang diberikan oleh manusia lainnya. Karena Allah berfirman, Dia yang Mahamengetahui orang-orang beriman dan orang-orang munafik (Q.S 29:11).

Jaga lisan dan tangan, agar tidak sampai membuat orang lain merasa jengah atau terancam.

Masih ingat kan? Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Mari kembali mengeja kebijaksanaan. Tetaplah menawan, tanpa perlu menjatuhkan.

Dengan begitu, kita akan mencapai damai, tanpa perlu berandai-andai.

Aamiin ya Robbal ‘alamin.

Yakin Tak Mau Komen?