Dari Rumah untuk Sejahtera

“Mama pengennya kamu jadi wanita karir, yang mempunyai penghasilan sendiri

tanpa harus bergantung kepada suami”

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau ujung-ujungnya gak kerja alias jadi Ibu Rumah Tangga”

“Tau gini, mending dulu tamat SMA langsung nikah”

“Kalau kamu gak kerja, emangnya gaji suami cukup”?

 

Sering mendengar perkataan seperti itu? Berarti kita sama, terjebak dengan pola pikir orang tua zaman dulu. ”Gak kerja, gak makan”. ”Gak kerja, gak hidup”. “Gak kerja sama dengan pengangguran”. “Gak kerja, gak ngehasilin cuan”. Namun seiring dengan berjalannya waktu, sedikit banyak pola pikir itu tentu berubah. Tetapi bukan pola pikir orang tua tentunya, lebih kepada pola pikir anak yang kini telah berganti status menjadi orang tua.

 

Empat tahun sudah biduk rumah tangga ini kami jalani. Dengan visi dan misi pernikahan yang berpusat dari Rumah untuk Dunia. Menjadi partner bagi pasangan dan menjadi ibu yang profesional bagi anak-anak kami. Kalau dilihat dan dibaca mungkin kelihatannya berjalan tanpa adanya tantangan. Namun ternyata kenyataan sering tidak sesuai dengan harapan. Buktinya benteng pernikahan kami masih bisa disusupi oleh pihak luar.

 

Dan sudah bisa ditebak itu siapa? Yaps, benar sekali, jawabannya adalah keluarga terdekat yakni orang tua. Ibarat kata, ”Aku ingin mereka tak ingin, aku mau mereka tak mau tahu”. Berapa kalipun berusaha untuk mengungkapkan ataupun menjelaskan kebenaran adalah mutlak kata mereka. Dan tak jarang inilah awal mula percekcokan antara saya dan suami. Dari sini saya berpikir, kalau terus-terusan mengikuti kata orang tua sementara saat ini saya sudah berkeluarga, bisa berantakan dunia perumahtanggaan kami. Makanya, beberapa waktu yang lalu saya mencari titik tengah agar keduanya bisa untuk jalan bareng. Alhamdulillah, Allah tunjukkan salah satu jalannya, yaitu dengan berdagang.

 

Dagang? Iya berdagang. Berdagang buah-buahan adalah pilihan saya. Mengapa? Karena mayoritas dari kami sekeluarga suka ngemil buah. Dan disekitaran tempat saya tinggal memang masih begitu jarang ditemukan penjual buah. Kalau mau buah, ya harus berusaha dulu untuk keluar rumah. Dari sini lah muncul ide untuk membuat, TokTok Buah (Tinggal ketok buah ada). Ditambah buah yang saya jual adalah fresh dari pasar. Jadi stok buah memang yang terbaru, bukan yang berhari-hari tidak laku dijual. Bagaimana saya yakin kalau buah yang saya pilih adalah masih baru? Karena saya sendiri yang turun ke pasar untuk memilihnya. Berkeliling sekitaran dua jam untuk mencari-cari buah terbaik, bertanya tentang bagaimana cara menentukan buah yang enak kepada satu persatu penjual buah. Sampai pada akhirnya menentukan buah dari penjual mana yang akan saya eksekusi.

 

Seribet itukah? Jawabannya, iya. Karena disini kita tidak hanya bicara tentang kuantitas tetapi juga kualitas. Disini kita mengedepankan kepercayaan konsumen, agar tidak kecewa dengan buah-buahan kita. Karena berdagang diatas kepercayaan tentu hasilnya jauh lebih memuaskan. Buktinya, jika buah-buahnya pada habis konsumen menghubungi kita lagi. Disini kami pun menerima pesanan, mulai dari kiloan sampai buah potongan pun ada. Dan Alhamdulillah sedikit banyak pun bisa mengumpulkan cuan tanpa harus keluar dari istana, hehehe (rumah maksudnya). Dan yang lebih woownya lagi, distributor buah pun terbantu dengan pesanan-pesanan yang berdatangan. Karena, seperti yang kita tahu efek pandemi membuat puing-puing rejeki mereka juga ikut terganggu. Dengan hadirnya Tok Tok Buah, yang setiap belanja dalam jumlah banyak tentunya sangat membantu perbaikan perekonomian abang ataupun ibu ibu buah.

 

Abang buah senang, saya pun lebih senang lagi. Dan kembali lagi kepada orang tua, sedikit demi sedikit sudah bisa menerima pilihan hidup anaknya yaitu berdagang. Walaupun di dalam hatinya yang terdalam berharap bukan ini yang saya lakukan. Tapi tak apalah, namanya hidup kita tidak bisa menyenangkan dan mengabulkan semua permintaan manusia. Bukan begitu?hehehe. Pelajarannya, menjadi wanita juga perlu mempunyai keahlian. Didapat dari proses panjang dalam mengekplore diri sendiri. Beranjak dari zona nyaman, untuk ikut terlibat menjadi Ibu pembaharu. Jika dirasa keluar dari rumah untuk bekerja begitu sulit, maka maksimalkanlah dari rumah untuk bisa mengubah kesulitan tersebut. TokTok Buah, dari rumah untuk sejahtera.

Leave a Reply