Cerita yang Ingin Kami Bawa

Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga.. (Hasan Al Banna)

Keluarga adalah kunci perbaikan sebuah bangsa, begitupun kami ingin menjadi bagian dari tujuan luhur tersebut. Menjadi lingkaran kecil yang merupakan bagian dari lingkaran besar masyarakat, menyumbangkan generasi yang kuat dan dapat diandalkan yang kelak diharapkan mampu bermanfaat, berkontribusi untuk agama dan bangsa. Generasi yang senantiasa dekat dengan Allah SWT dan menjadikanNya sebagai tujuan hidup. Untuk tujuan tersebut, kami memerlukan tools untuk mencapainya. Sebuah visi membutuhkan misi dan nilai – nilai yang menyertainya. Kami memilih lima nilai yang menjadi napas gerak kami dalam berumah tangga dan ingin membaginya kepada banyak teman, kepada banyak orang yang kami kenal 🙂 1. Ridho Allah SWT Muara segala pilihan dan tindakan adalah ridho Allah SWT رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه و سلم نبي . رواه أبو داود و الترمذي و ابن حبان. “Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad shallallahu alayhi wa sallam sebagai Nabiku.” HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari hati yang tau harus kemana menaruh kepercayaan. Seorang muslim sebagai makhluk yang paling bahagia harusnya tak lagi risau dengan bermacam kesulitan hidup yang menempa dirinya. Raganya tegar tak hanya di luar, tapi juga jauh ke dalam lubuk hati, yang merupakan pusat kekuatan sehingga mampu menjadikan dunia berada di genggamannya.  Hati muslim sejati adalah hati yang menaruh segala kepercayaannya kepada Allah. Ia telah ridha akan segala skenario yang Allah telah ciptakan untuk hamba-hambaNya. Ia telah benar memilih kepada siapa pengharapan harusnya dititipkan. Agar tak ada lagi penantian yang tak terjawab. Ridha kepada Allah artinya ridha menerima segala apa yang telah ditakdirkanNya, juga dengan apa yang telah menjadi peraturanNya. Keyakinan bahwa peraturan Allah adalah yang terbaik bagi hambaNya adalah salah satu hal terpenting dalam menjalani hidup berumah tangga, bagaimana tidak sedang Ia adalah Tuhan semesta alam, maka hawa nafsunya tunduk di bawah kepercayaan akan segala ketetapanNya yang penuh dengan hikmah. 2. Tawakkal Allah yang menjadi pencukupnya.. وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا  (At thalaq :3) Siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia yang jadi pencukupnya.. Manusia dalam menjalani kehidupan di muka bumi berbeda jalannya dengan makhluk yang lain. Tak hanya kebutuhan materil mereka juga mencari ketenangan di dalam hati, yang merupakan puncak dari segala kebutuhan dan pencarian, perhatiannya haruslah lebih besar tertuju kepada apa yang dikandung di dalamnya, dan jangan sampai lalai dengan hasutan jasmani yang sering tertipu. يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Arrum:7) Bukan hanya sebatas memperhatikan perkataan hati dan meninggalkan jasad jadi tak ada guna, namun jasmani haruslah diletakkan pada tempatnya, yaitu bergerak dan terus bergerak mengikuti perkataan hati.  Dalam Surat At-Tiin Allah ta’ala berfirman: لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤)ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke keadaan yang serendah-rendahnya. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Ayat ini menunjukan bahwa Allah telah menciptakan manusia dengan keadaan yang paling baik, baik dari segi fisik, akal, dan segala macam karunia yang didapat seperti wahyu, dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi, akan tetapi bila dalam hatinya tidak ada iman yang menasehati tidak pula bersinergi dengan amal shalih maka dia akan dikembalikan ke keadaan hinanya yang semula, dimana dia berasal dari lumpur yang hina, bahkan lebih hina dari itu, bahkan lebih hina dari hewan. Karena pentingnya perkara hati ini, supaya kita terus menjaga nikmat taqwim, dan agar kita terbebas dari bermacam kehinaan, maka ketahuilah bahwa keimanan sebagai sumber segala kebaikan tidaklah diterima melainkan dengan kemurnian (tauhid) dan ketawakkalan (berpasrah diri) adalah cara untuk memurnikan iman ini kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 3. Harmoni Selaras dan seirama dalam gerak Pernikahan mempertemukan dua pribadi dengan latar belakang, karakter, sifat, dan potensi masing – masing. Sehingga perbedaan adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Nilai harmoni mencerminkan keinginan kami dalam pernikahan. Keselarasan adalah hal yang ingin terus diupayakan. Perbedaan ada untuk saling menguatkan pada sisi – sisi terbaik dan saling menambal di sisi yang menjadi kekurangan masing – masing. Jika kelak ada dinamika – dinamika pernikahan, nilai harmoni ini yang membuat kami kembali pada tujuan awal menikah yakni menyatukan potensi untuk bersama sama mendekatkan diri pada Allah subhanallahu wa ta’ala. 4. Dekat dan Hangat Kedekatan yang hangat antar anggota keluarga Merasa jauh bisa membuat kita kehilangan kasih sayang, kehilangan sifat saling memahami, kehilangan keinginan untuk mengerti. Tersebab merasa dekat, ada kalanya kekurangan menjadi sebuah kelucuan tersendiri yang bisa diperbaiki dengan senyuman. Hati yang selalu terikat dan merasa dekat membuat jarak tak jadi soal dalam mencapai tujuan bersama. Perasaan dekat dan saling berusaha menciptakan suasana yang hangat membuat setiap orang yang menjadi bagian dari keluarga merasa nyaman. Perasaan betah berlama – lama bersama keluarga kecil kita. 5. Bahagia  Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ruh dan napas kita Sumber energi kita dari langit jadi tak pernah habis. Sumber kebahagiaan kita adalah dari Allah subhanallahu wa ta’ala, sumber kebahagiaan yang abadi. Sehingga, dalam susah maupun senang, ringan maupun berat, lapang maupun sempit yang kita rasakan dalam menjalani kehidupan pernikahan kebahagiaan adalah napas dan ruh yang selalu menyertai kita. Tantangan apapun dalam mencapai tujuan pernikahan kita tak menjadi penyebab hati kita untuk bersedih. Semoga nilai kelima ini selalu mengingatkan kita untuk terus merasa bahagia dalam perjuangan bersama. Hingga amanah hidup kita di dunia berakhir dan di akhir semoga tujuan pernikahan kita telah tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *