Blog Single

19 Sep

Buya Hamka : Menolak Takluk

Siapa sih yang tidak kenal Buya Hamka? Adalah pria kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908, putra H. Abdul Karim Amrullah. Seorang ulama dan menjadi tokoh pelopor gerakan Islam “Kaum Muda” di daerahnya. Dikenal dengan nama HAMKA, singkatan dari nama lengkap beserta gelarnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau berbakat dan segera menguasai bahasa Arab, mampu memahami berbagai literatur Arab serta terjemahan dari tulisan-tulisan Barat.

Ayahnya menyebutnya “Si Bujang Jauh” karena ia suka bertualang. Pada usia 16 tahun, ia pergi ke Jawa untuk mempelajari seluk-beluk gerakan Islam modern dari H. Oemar Said Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo (ketua Muhammadiyah 1944—1952), RM. Soerjopranoto, dan KH. Fakhfuddin. Semua kursus pergerakan diadakan di Gedung Abdi Dharmo, Pakualaman, Yogyakarta. Setelah beberapa lama di sana, ia berangkat ke Pekalongan menemui kakak iparnya, AR. Sutan Mansur selaku ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan pada masa itu. Di sana, ia banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh ulama setempat.

Pada Juli 1925, ia pulang ke rumah ayahnya di Padangpanjang dan mulai berkiprah dalam organisasi Muhammadiyah. Kemudian pada Februari 1927, ia berangkat ke Mekkah tanpa bantuan orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana kurang lebih enam bulan. Selama di Makkah, ia bekerja di sebuah percetakan. Pada bulan Juli, ia pulang ke tanah air dengan tujuan Medan. Di Medan, ia menjadi guru agama di sebuah perkebunan selama beberapa bulan. Pada akhir 1927, ia kembali ke kampung halamannya. Pada 1928, Hamka menjadi peserta Muktamar Muhammadiyah di Solo. Sepulang dari Solo, ia diamanahkan untuk memangku beberapa jabatan, mulai dari ketua bagian Taman Pustaka, ketua Tabligh, hingga ketua Muhammadiyah cabang Padangpanjang. Pada 1930, ia diutus untuk Mendirikan Muhammadiyah di Bengkalis. Pada 1931, ia diutus untuk menjadi mubaligh Muhammadiyah di Ujungpandang.

Hamka pindah ke Jakarta tahun 1950 dan memulai karirnya sebagai pegawai negeri di Kementerian Agama yang dipimpin KH. Abdul Wahid Hasyim. Pada tahun yang sama, ia mengadakan lawatan ke beberapa Negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Buya Hamka adalah salah satu dari sedikit mufassir (penulis tafsir) asli Indonesia. Ia pernah mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Karo segala orasi nya yang memukau para tokoh disana. Hamka berhubungan dekat dengan para tokoh dan gerakan Islam Internasional. Tentang pengaruhnya, Tun Abdul Razak, Perdana Menteri Malaysia berkata, “Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, tapi juga kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.” Sepulang dari lawatan, ia mengarang beberapa buku roman dan biografi.

Dalam bidang politik, Hamka menjadi anggota konstituante hasil pemilu 1955. Dalam sidang konstituante di Bandung, ia menyampaikan pidato penolakan gagasan Soekarno untuk menerapkan Demokrasi Terpimpin.

Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya dalam dakwah. Sebelum Masyumi dibubarkan, ia menerbitkan majalah bernama Panji Masyaratkat yang menitik-beratkan persoalan kebudayaan dan pengetahuan agama Islam. Majalah ini sempat dihentikan pada 17 Agustus 1960 dengan alasan memuat karangan Dr. Muhammad Hatta berjudul Demokrasi Kita yang mengkritik Demokrasi Terpimpin. Hamka pernah ditangkap pada 27 Januari 1964 dan dipenjarakan selama Orde Lama. Setelah Orde Lama tumbang, ia dibebaskan. Pada 1967 majalah Panji Masyarakat terbit kembali dan Hamka menjadi pemimpin umumnya.

Pada era perjuangan fisik, beliau ikut keluar-masuk hutan bersama rakyat karena rakyat yang ikut perang gerilya sangat memerlukan siraman rohani. Beliau juga dikenal karena sikapnya yang moderat dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara umat, bahkan juga lemah lembut kepada mereka yang memusuhinya seperti Muhammad Yamin dan Pramoedya Ananta Toer.

Hamka menjabat sebagi ketua Majelis Ulama Indonesia pada 1975. Pada masanya, MUI pernah mengeluarkan fatwa luar biasa, melarang perayaan natal bersama. MUI didesak untuk mencabut kembali fatwa tersebut, namun Hamka menolaknya. Ia lebih memilih mundur dari jabatannya daripada harus mengorbankan akidah. Pada 24 Juli 1981, ia wafat dan dimakamkan di Tanah Kusir, diiringi doa segenap umat Islam yang mencintainya.

Related Posts

Leave A Comment