Bulan Baik Untuk Ku

Bulan ini adalah bulan terberat dalam hidup ku. Aku divonis mengidap miokarditis, sederhananya ada peradangan pada otot jantung ku yang menyebabkan fungsi jantung dalam memompa darah ikut terganggu. Mungkin karena penyakit ini juga lah yang menyebabkan akhir akhir ini aku sering kelelahan, susah bernafas dan tentunya sakit pada bagian dada.

Tetapi aku masih beruntung, penyakit ku masih berada pada level ringan. Yang artinya lebih mudah disembuhkan baik dengan atau tanpa perawatan. Setidaknya masih ada kelegaan dan harapan dihari-hari ku kedepan.

Aku bukan lah wanita yang lemah, menderita dengan datangnya ujian bukan lah jati diri ku. Namun untuk menjadi wanita yang kuat dan tegar aku pun masih belum mampu. Setidaknya berkeluh kesah dengan penyakit masih sering terucap, tetapi dilain waktu aku bisa bersabar dengan kondisi saat ini.

Sebelumnya perkenal kan aku Riri, ibu satu anak yang masih berusia setahun lebih. Menikah di usia yang relatif muda dan memilih untuk mengurus suami serta anak adalah keputusan yang ku pilih dari jauh-jauh hari. Meski ada kekecewaan dari keluarga dan orang orang terdekat ku. Tidak mudah memang, di zaman seperti ini bagi seorang lulusan perguruan tinggi bergengsi hanya tunduk pada status rumah tangganya. Belum lagi bisik bisik tetangga, ragam bahasa teman dan juga saudara. Semua menyesali keputusan yang ku ambil.

Terlepas dari itu, pendidikan itu penting malah sangat penting. Tetapi pendidikan bukanlah hal mutlak sebagai batu loncatan untuk mengisi pundi pundi rupiah. Percuma terdidik jika hasil nya hanya berorientasi pada materi. Tetapi aku pun tidak melarang siapa pun di luar sana jika prinsip kita berbeda, boleh boleh saja tetapi bukan itu yang utama. Bagi ku pendidikan adalah modal dasar kehidupan. Ilmu yang tidak seberapa sewaktu menapaki jenjang formal adalah bekal ku dalam berumah tangga. Meski tidak banyak namun sedikit-sedikit masih bisa membantu.

Dan disinilah ilmu itu ku realisasikan. Sebagai ibu dengan penyakit yang tengah menggerogoti ku. Berfikir rasional dengan penyakit tanpa mengorbankan keluarga.

Tidak ada yang tahu tentang diagnosis ini. Hanya aku dan juga Tuhan ku. Bukan tidak ingin berbagi dengan keluarga, tetapi mereka pun punya beban yang tak sama. Bagi ku, jika masih bisa ditanggung seorang diri. Why not? Karena masih ada Tuhan tempat ku berbagi. Karena Dia melebihi siapapun tempat aku berkeluh kesah. Selalu ada balasan dan jawaban untuk setiap keluh yang aku utarakan.

Jadi, lewat penyakit ini aku pun banyak belajar. Bahwa sehat itu berharga. Waktu itu penting dan keluarga itu utama.

Malam ini ku tatap lekat malaikat kecil ku, berharap esok dan lusa aku masih bisa hadir menemani hari hari nya. “Tuhan, jangan cepat kau ambil usia ku,” doa tulus tercekat sesaat sebelum buliran itu jatuh.

 

#Writober

#RBMIpJakarta

#ibuprofesionaljakarta

Summary

Tinggalkan komentar