Buku Amal Yaumi Bukan Sarana Riya’

Keengganan untuk mengisi buku amal yaumi banyak sekali ditemukan dalam kehidupan. Dalam forum forum rutinan skala kecil maupun pada majelis majelis ilmu lainnya yang skalanya lebih besar. Ada sebagian yang berpendapat bahwa buku amal yaumi itu tidak perlu diisi. Cukup diri sendiri dan Allah saja yang tahu. Salah satu alasan yang dikemukakannya adalah karena takut riya’.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan riya’? apakah mengisi buku amal yaumi termasuk salah satu perbuatan yang menjurus ke riya’?

Riya’ menurut bahasa adalah menampakan. Sedangkan menurut istilah Riya’ adalah melakukan ibadah dengan niat supaya ingin dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah karena Allah. Al Hafiah Ibnu hajar Alsqo’ani dalam kitabnya Fathul Baari berkata “Riya’ adalah menampakan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”.

Dengan begitu, perbuatan riya’ dapat disimpulkan sebagai perbuatan yang melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan karena manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikan kepada orang lain supaya mendapat pujian atu penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberi penghargaan.

Lantas, apakah mengisi buku amal yaumi atau mutaba’ah yaumiyah itu merupakan sarana perbuatan riya’?

Tidak, jika dalam pribadi masing-masing yang mengisinya dengan meniatkan hanya karena Allah, meniatkan untuk memperbaiki diri juga sebagai sarana muhasabah. Sudah sejauh manakah effort kita dalam melaksanakan kewajiban dan sunnah- sunnah Nya. Selain itu, buku amal yaumi sebagai sarana pengingat diri, karena fitrahnya manusia itu adalah lupa. Itulah mengapa, Allah memerintahkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah dari keburukan.

Buku amal yaumi merupakan sarana evaluasi ibadah kita setiap hari, baik yang wajib maupun yang sunnah. Suatu kegiatan tidak akan sia-sia jika dibalik kegiatan itu terdapat manfaat yang baik. Mengisi buku amal yaumi tidak semata-mata kagiatan yang dilaksanakan rutin, bahkan beberapa ada yang melaksanakan nya juga hanya sebatas menuntaskan kewajiban forum, namun ia merupakan kegiatan yang memiliki banyak faedah yang baik bagi masing-masing muslim.

Beberapa manfaat yang diperoleh dengan adanya buku aman yaumi yaitu:

1. Dengan buku amal yaumi tersebut, kita bisa melihat bagaimana kualitas ibadah kita setiap hari, kemudian menjadi setiap pekan, dan manjadi setiap bulan, hingga menjadi evaluasi kita dalam satu tahun. Apakah semakin baik setiap harinya atau malah semakin menurun.

2. Kita bisa menetapkan target ibadah kita sehingga harapannya keteraturan dan keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah bisa kita lakukan. Tentang istiqomah, kita bisa sedikit membaca kembali kisah Muhammad Al-Fatih, ketika pemilihan imam shalat jum’at pertama di konstantinopel dan saat itu dimulai dengan posisi semua orang berdiri. Pertanyaan pertama siapa yang sejak akhil baligh pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu maka duduklah dan ternyata tidak ada yang duduk, pertanyaan kedua siapa yang sejak akhil baligh pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib maka duduklah sebagian pun mulai duduk kembali, pertanyaan terakhir adalah siapa yang dari akhil baligh pernah meninggalkan shalat tahajud maka duduklah dan semua pun pada akhirnya kembali duduk rapi kecuali satu orang yaitu Muhammad Al Fatih. Dengan sikapnya yang istiqomah menjaga amal yaumi hingga menjadikan dia sosok besar diusia muda dengan menaklukan kota konstatinopel, panglima perang yang kuat sesuai dengan prediksi Rasulullah.

3. Dapat menjadi menjadi bahan muhasabah atau renungan untuk memperhatikan kualitas iman kita. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Iman itu naik dan turun, maka sentiasa perbaharui iman kamu”. Dengan bercermin kembali pada buku amal yaumi, kita memiliki kesempatan untuk senantiasa memperbaharui iman kita.

4. Dengan mengisi buku amal yaumi kita akan senantiasa mengingat, amalan apa yang sudah kita lakukan, amalan apa yang kita tinggalkan, sehingga target target yang kita susun sebelumnya bisa dievaluasi dan kemudian diperbaiki.

Buku amal yaumi bisa menjadi motivasi yang kuat bagi kita dalam meningkatkan ibadah dan kualitas keimanan. Melihat temen-temen kita yang ibadahnya lebih giat dan lebih istiqomah, harus menjadi motivasi bagi kita. Kita yang ibadahnya tertinggal jauh darinya, jangan samoai membuat kita putus asa dan enggan meningkatkan ibadah. Dengan melakukan perbaikan satu persatu dalam ibadah harian, dan memiliki azzam yang kuat untuk berusaha semaksimal mungkin istiqomah. Melakukannya dengan berkelanjutan. Menjauhi sikap ingin dilihat soleh, menjauhi sikap ingin dilihat paling banyak amalannya.

ketika sebuah amalan itu dilakukan dengan niat hanya karena untuk mencari keridhoanNya, maka amalan tersebut akan bernilai baik. namun sebaliknya, apabila dilakukan karena tujuan lain, maka akan bernilai buruk.

Tinggalkan Balasan