Berbagi Ala Mahasiswa Perantauan

“Assalamualaikum Neng,”sebuah salam dari sebelah membuat ku berhasil menolehkan wajah. “Waalaikummussalam,”jawab ku pada si sumber suara. “Maaf Neng, bisa bantu Ibu tidak?”kini beliau memulai percakapan. Ku pandangi wanita yang kini tepat dihadapan ku, kalau dilihat sekilas dari wajahnya, seperti seumuran dengan Ibu di kampung. “Eh, maaf bantu apa ya Bu,”jawab ku. “Begini Neng, sebelumnya maaf kalau Ibu mengganggu waktunya, awal beliau mulai bercerita. “Iya Bu, tak apa,” jawab ku sambil melihat Bus yang ku tunggu sejak 10 menit yang lalu berlalu. Padahal kalau boleh jujur, ingin sekali aku naik ke atasnya, mengingat badan ku yang sudah sangat lelah dengan kegiatan ospek hari ini, ditambah lagi dengan tugas kuliah yang sudah mulai menumpuk. Tetapi, aku juga tidak tega meninggalkan Ibu ini sendiri. Alhasil disinilah aku sejenak mendengarkan si Ibu bercerita.
“Begini Neng, sebenarnya Ibu dari Rumah Sakit yang ada di Salemba. Anak Ibu sudah seminggu dirawat disana, ada masalah dengan jantungnya,”ucap sang Ibu yang kini terlihat sedih. “Jauh juga ya Bu, dari Salemba kemari,”jawab ku dengan polosnya. Sontak ia terlihat kaget dengan ucapan ku. “Eh, iya Neng,”jawabnya kini tergagap. “Kalau boleh tahu jantung anak Ibu kenapa Bu?”tanya ku lagi. ”Itu Neng, kata dokter ada penyempitan dijantungnya, dan butuh biaya yang tidak sedikit untuk bisa menyembuhkannya,”jawabnya lagi. “Sampai saat ini saya sudah kehabisan uang untuk membayar obat-obatan dan juga biaya rumah sakit neng,”tambahnya.
“Oh begitu ya Bu,”jawab ku seadanya. Karena memang aku yang notabene masih berstatus sebagai Mahasiswa Baru (MABA) di kota ini tentu tidak cukup bisa untuk meringankan beban sang Ibu. Karena jika mendengarkan penuturan beliau dari tadi, arah tujuan pembicaraan adalah untuk meminta pertolongan meringankan beban yang tengah dikandung oleh sang Ibu. Tapi bu, bukan kah ada program BPJS, apa Ibu tidak punya BPJS?”jawab ku lagi. “Eh, itu ada Neng,”jawabnya kembali terbata. “Tetapi tidak semua ditanggung oleh BPJS Neng,”jawabnya. Tetapi kali ini jawabannya sudah mulai terdengar, mungkin beliau sudah capek berbasa basi dengan ku. “Jadi begini Neng,”ucapnya melanjutkan pembicaraan. “Apa Neng bisa bantu Ibu, untuk meringankan beban Ibu?”terus terang beliau kepada ku.
Nah, tepat juga insting ku, apa yang ku pikirkan tadi ternyata benar. Tetapi aku bingung, mau ku jawab apa pertanyaan si Ibu. Jujur ini adalah akhir bulan, untuk mahasiswa perantauan seperti ku akhir bulan adalah hal yang paling menakutkan dibandingkan dosen killer. Tidak akan diketemukan lagi uang dengan warna merah menggemaskan didalam kantong baju, ataupun biru muda yang imut disela-sela tumpukan baju. Yang ada puasa sunnah akan semakin dirutinkan, stok mie akan selalu tersedia, dan juga menahan kaki untuk tidak melangkah ke tempat-tempat yang akan membinasakan (baca : Mall). Itulah prinsip mahasiswa perantau yang kurang lebih sudah turun temurun diwariskan.
”Tapi, maaf Bu, bukan tidak mau membantu Ibu, namun kondisi saya juga sedang kesulitan Bu,”jawab ku jujur. Terlihat ekspresi si Ibu berubah, yang tadi sedih dengan ceritanya, tetapi kini sedikit kesal dengan jawaban yang ku lontarkan. ”Ah, semoga hanya prasangka ku saja,”ucap ku pelan agar tidak terdengar oleh beliau. ”Tolonglah Neng Ibu benar-benar tidak tahu lagi mau kemana meminta tolong,”kini beliau memelas. Aku jadi tidak enak dengan tatapan orang-orang disekitar, karena memang sedari tadi aku tengah berada di halte kampus. ”Begini Bu, bukan tidak mau membantu Ibu, tetapi keadaan saya juga sedang lagi susah Bu,”jawab ku mempertegas. ”Kalau buat bantu Ibu menebusi obat-obatan anak Ibu saja bagaimana Neng?”jawabnya kini menawar.
”Ya Allah kenapa harus Aku sih?”gerutu ku ditengah tatapan para penunggu bis kampus. ”Jujur bu, seandainya saya punya uang berlebih pasti sudah ku bantu,”bisik ku pelan. ”Kalau buat obatnya berapa bu?”jawab ku berbasa basi. Kalau boleh jujur duit ku dikantong tinggal pecahan dua puluh ribuan. Itupun sudah dialokasikan buat fotocopy diktat ditambah uang makan malam ini sesampai di asrama. ”Sekitar dua juta,”jawab si Ibu. ”SubhanaAllah, banyak banget,”jawab ku dengan kagetnya. Padahal tadi si Ibu bilang kalau beliau mempunyai salah satu kartu asuransi kesehatan, logikanya untuk obat apa mungkin harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Entah lah aku hanya berdiskusi dengan logika ku semata.
”Maaf Bu, ternyata banyak ya Bu,”jawab ku lagi. ”Iya Neng, jadi Neng bisa bantu tidak,”kali ini ia menodong ku dengan pertanyaannya. Tapi aku tidak boleh kehabisan akal, karena sedari awal aku sudah mulai curiga dengan si Ibu ini, tetapi bagaimana pun aku kasihan jika benar itu terjadi pada beliau dan keluarganya. ”Boleh saya lihat kuitansi atau resep obatnya Bu?” jawab ku lagi. ”Eh..itu..,”kali ini beliau tergagap menjawab pertanyaan ku. ”Saya lupa membawanya Neng,”jawabnya terbata-bata. Dari sini bisa ku lihat ternyata benar si Ibu ini mencoba menipu ku. Tetapi tidak tega juga saya jika harus terang-terangan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang tentunya akan menyudutkan beliau. Pada akhirnya, ”Ini Bu, saya hanya bisa membantu segini,” ucap ku sambil memberikan sisa duit terakhir yang ku punya dari dalam kantong baju. ”Byee kesayangan hijau,”ucap ku lirih.
”Ya sudah terimakasih,”jawab si Ibu dengan ketus sembari pergi meninggalkan aku yang masih melongo dengan tingkah beliau. Ku coba ucapkan salam, tetapi beliau berlalu dan tidak menjawab sepatah kata pun. ”Huuuft,”sudah lah bisikku. Tiada ayam malam ini dan untuk fotocopy terpaksa tabungan yang harus aku korban kan. Semoga esok akan datang rezeki dari arah yang tak terikira. Lima menit setelah ditinggal oleh sang Ibu bis kampus pun datang, setelah duduk aku masih kepikiran perihal Ibu tadi. Ada iba yang menyeruak dan ada sesal yang tetiba datang. Iba karena mengapa jalan seperti itu yang harus dilakukan oleh si Ibu. Dan sesal kepada diri sendiri, kalau ternyata benar beliau kesusahan dan sangat membutuhkan uang kenapa saat seperti itu aku harus kehabisan uang.
Tetapi ada perasaan lega dan juga bahagia sebenarnya, bisa membantu disaat kita sendiri kesempitan. Tetiba aku teringat, ”jika kita memudahkan urusan orang lain, maka yakinlah Allah juga akan memudahkan urusan kita”. ”krruuuuuk…kruuuuk,”astagfirullah perut ku berbunyi. Beberapa pasang mata melirik ke arah ku, karena sudah dipastikan suara itu muncul dari lambung yang belum terisi ini. ”Ya Allah kuatkan sedikit lagi,”ujur ku malu sambil menundukkan wajah.
Esok harinya, seorang teman bercerita kalau semalam dia hempir kena tipu oleh seorang wanita yang kira kira berusia empat puluh tahunan.. Yang terlihat menghiba dan meminta tolong kepadanya untuk membantu biaya perawatan anaknya. Untungnya saat dia sedang dimintai tolong, satpam kampus sedang berpatroli, dan kemudian si Ibu pura-pura ada perlu dan tetiba menghilang. Jadi teman ku tidak sampai memberikan uangnya kepada si Ibu. Hanya doa yang bisa ku kirim untuk si Ibu dimanapun beliau berada, semoga beliau segera insyaf dan mau bekerja dengan cara yang halal.
Beberapa minggu kemudian, tidak sengaja mengorek kantong baju yang persis sama saat ku pakai ketika bertemu dengan Ibu hari itu. ”MasyaAllah, ada uang berwarna merah, dengan nominal dua ratus ribu. Bagai ketiban durian runtuh sujud syukur ku lakukan, bagaimana tidak uang ku sudah habis dan untuk meminta kiriman ke orang tua terasa berat. Ada haru yang mengisik, ada kuasa diatas kuasa. Jadilah benar, jika kita memudahkan urusan orang lain, maka Allah pun akan memudahkan urusan hambaNya.

Leave a Reply