Bahasa Isyarat Kebencanaan untuk Kongkritisasi Inklusifitas

Kisah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dalam hal Persatuan Indonesia mungkin begitu melekat dibenak kita. Salahsatu kunci utama dari sejarah tersebut Adalah kesamaan dalam penggunaan bahasa yang tujuan intinya adalah persatuan.
Persatuan adalah cita-cita yang didambakan saat itu dan juga hingga kini, persatuan dan kesatuan dari komponen bangsa untuk menggapai tujuan berdirinya Indonesia yaitu perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dalam lingkup Indonesia untuk warga dan masyarakatnya.

Masyarakat penyandang disabilitas khususnya masyarakat tunarungu sesungguhnya juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, realitas dan fakta-fakta hubungan antar penyandang disabilitas tuli dan masyarakat tuli dengan orang mendengar normal dapat menjadi telaahan penting. Dalam konteks bencana seperti pada saat tanggap darurat, untuk kegiatan penyelamatan, evakuasi, pengamanan, pelayanan kesehatan, dan psikososial merupakan upaya-upaya kegiatan perlindungan terhadap kelompok rentan khususnya disabilitas tuli. Menjadi tantangan dan kerumitan tersendiri dalam mengurangi risiko bencana, apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat tuli dan meningkatkan partisipasi mereka untuk melatih kesiapsiagaan bencana.

Tunarungu Menjadi Tuli

Saat ini penggunaan istilah tunarungu perlahan menjadi tuli. Seorang aktinis Organisasi Penyandang Disabilitas (ODIs) yaitu Handicap International yang berbasis di Yogyakarta menyampaikan kepada saya bahwa setelah konferensi TUWI ( tuli wicara) sekitar tahun 2016/2017 para disabilitas yang tergabung dalam komunitas dan organisasi massa mereka bersepakat bahwa penggunaan tunarungu berangsur dihilangkan menjadi tuli. Tunarungu dianggap lebih kepada pendekatan medis (impairy hear) yaitu gangguan fungsi pendengaran sehingga hilang dan atau terganggu akibat kerusakan terkait kejadian dan penyakit. Kelompok Tuli (deaf) dinilai sejajar dengan orang Dengar (mendengar normal). Tuli merupakan kondisi tidak bisa mendengar sejak dari kecil hingga dewasa sehingga kemampuan berbahasanya berbeda dengan orang kebanyakan.

SIBI dan BISINDO

SIBI kependekan dari Sistem Isyarat Bahasa Indonesia. Bisindo merupakan singkatan dari Bahasa Isyarat Tunanetra Indonesia. Keduanya terkait erat dengan kamus penggunaan bahasa isyarat yang digunakan secara mayoritas di Indonesia.

Menelisik sejarah apa yang disampaikan  mantan ketua Gerakan untuk Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Jakarta Bapak Dimyati Hakim, bahwasanya Pemerintah sendiri mulai melakukan pelatihan kode isyarat (kode Isyarat) sejak 1997. Kemudian berkembang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI  membuat kamus SIBI. Sedangkan di masyarakat sendiri sudah ada kelompok masyarakat tuli yang eksis (Gerkatin) dan kemudian diajak Pemerintah saat itu untuk masukan kamus yang ada. Terjadi dinamika usulan Gerkatin tidak dimasukkan, hubungan main renggang hingga akhirya dibuat kamus bahasa isyarat versi lain yang dibuat masyarakat yang disebut BISINDO. Kedua pendekatan SIBI dan BISINDO terus berkembang hingga kini yang masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan namun saling mendukung satu sama lain.

Temuan tentang penggunaan bahasa isyarat di Indonesia yang menjadi catatan penting yaitu adanya keragaman bahasa isyarat yg digunakan didaerah-daerah. Isyarat kebencanaan yang masih berbeda menyebabkan perbedaan pemahaman orang Tuli. Sebagai contoh bahasa isyarat untuk jenis bencana seperti gempa, tsunami, longsor, banjir, badai, dan kekeringan masih berbeda-beda terikat kultur dan kekhasan tiap daearah.

Urgensitas dan Isu Strategis Bahasa Isyarat dalam PB

Bagi masyarakat tuli, penggunaan gambar dan komunikasi secara total cukup membantu dalam penjelasan informasi yang datang kepada mereka. Bahasa isyarat dalam PB sesungguhnya dapat digunakan oleh semua Tuli. Namun hal ini perlunya  kesepakatan isyarat khusus untuk singkatan kebencanaan seperti BNPB, SKPDB, dan lain-lain  istilah asing yang sering digunakan dalam pelatihan PB semisal jalur evakuasi, PRB, Kesiapsiagaan, dibutuhkan juga isyarat terkait peringatan dini, penyelamatan dan
sosialisasi/pelatihan bagi Tuli dan pelaku PB lainnya terkait bahasa isyarat dalam PB yang telah tersusun

Isu Strategis yang menyeruak dalam kongres bahasa isyarat untuk Penanggulangan bencana yaitu perlu keterlibatan masyarakat tuli dalam PB di Indonesia. Sehingga dibutuhkan penyamaan bahasa isyarat untuk PB.  Untuk kesamaan tersebut menjadi pertanyaan apakah lembaga yang diberi mandat untuk pengembangan bahasa isyarat kebencanaan perlu dibentuk.  Sehingga sebelumnya BNPB perlu merumuskan kosakata isyarat istilah apa saja yg perlu diciptakan isyaratnya baik itu benda, kegiatan, dan keadaan.

Dalam hal ini komitmen peserta kongres untuk mendukung usaha PB secara bersama-sama sangat vital. Sebagai tindak lanjut atas hal itu, diperlukan peningkatan kapasitas masyarakat tuli dalam PB. Sebagai catatan pernah ada pelatihan Relawan tuli untuk PB. Dan terakhir adalah Bahasa isyarat tentang PB perlu divisualisasikan supaya lebih paham oleh masyarakat tuli.

Acara kongres bahasa isyarat merupakan sebuah terobosan untuk mengupayakan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat tuli dalam PB di Indonesia, demi inklusifitas dan persatuan dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana.

Leave a Comment