Ayat-Ayat Kauliyah dan Kauniyah Tentang Perempuan

By | Juli 20, 2019

apa itu ayat Qauliyah

 

Qauliyah berasal dari kata QOOLA yang arti secara bahasa adalah perkataan atau UCAPAN, yakni ayat Allah berupa ucapan yang difirmankan pada Muhammad SAW.

 

Ayat-ayat qauliyah tentang perempuan brarti ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt di dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek, termasuk tentang bagaimana memposisikan perempuan.

 

Ayat Kauniyah

Kauniyah berasal dari kata KAANA yang makna secara bahasa adalah bukti. Secara istilah Kauniyah maksudnya adalah ayat2 Allah yang tidak terfirmankan atau terucapkan atau tertuliskan namun bisa dibuktikan melalui keadaan atau pun kejadian.

 

Seorang mukmin yang baik tak hanya sekedar mencari kebesaran Allah melalui ayat-ayatNya di dalam Al-Qur’an melainkan juga mencari ilmu dan kebesaran Allah melalui alam semesta. Ayat Qauliyah dan Kauniyah ini tidak bertentangan satu sama lain bahkan malah saling melengkapi.

 

Ayat kauniah tentang perempuan adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini, yang berkaitan dengan kehidupan perempuan.

Selanjutnya saya akan sampaikan beberapa ayat kauliyah tentang perempuan sekaligus penjelasan dari segi kauniyahnya

1. manusia semua sama terbuat dari nutfah

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” (Q.S As Sajdah: 8)

 

dalam ilmu biologi atau reproduksi manusia selama sekolah, tentu kita belajar hal yang sama terkait asal usul manusia; dari air mani, kemudian menjadi segumpal darah. lalu Allah tiupkan ruh didalamnya.

 

salah kalau ada yang bilang perempuan terbuat dari tulang rusuk, bengkok. dll

merupakan salah satu upaya untuk mengaburkan kemuliaan perempuan yang telah Allah tetapkan.

interpretasi ini yang membuat orang-orang menganggap islam menomorsekiankan perempuan. padahal secara ayat kauliyah, pun ayat kauniyah dapat dibuktikan bahwa kita semua, laki-laki dan perempuan berasal dari satu hal yang sama

2. Ayat Berjilbab

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” — Surat An-Nur Ayat 31

saya yakin kita semua memiliki tafsir yang sama terkait menutup aurat ini. tapi yang perlu diperhatikan, interpretasi ini menyesuaikan fiqhul waqi’. meski ada perdebatan; apakah pakaian yang dimaksud ini dengan potongan (rok + baju) atau tanpa potongan (gamis)

 

maka selayaknya perdebatan ini dihindari. karena sebenernya tidak ada perintah harus gamisan, atau rok + tunik atau pake kaos kaki dll

 

kita menafsirkan pakai mukenah, atau karung sekalipun bisa. asalkan memenuhi ketentuan. tapi kan tidak mungkin kita pake karung. sehingga, gamis atau rok + baju menjadi pilihan yang paling efektif dan sesuai.

 

menutup ujung kaki pun, bisa kita interpretasikan pakai sepatu boot, atau sepatu katak, atau kresek asalkan menutup kaki. tapi kan… ndak mungkin ya. maka dari itu, dipilih yang efektif dan memungkinkan yakni : kaoskaki.

 

ada hal lain yang sering menjadi polemik atau permasalahan; jilbab yang semata simbol kesholihan. dikotomi antara berjilbab tapi tidak peduli sosial, atau pakaian apa adanya tapi peduli dengan sosial.

 

sudah semestinya, keputusan kita berjilbab dibarengi dengan ikhtiar perbaikan dari aspek-aspek lain sebagai muslimah. tidak cukup menutup atau membungkus diri, tapi juga aktualisasi diri dan berkontribusi

 

bahasan ini ada korelasi dengan ayat bahwa semua manusia berhak beramal sholih. pun begitu juga muslimah.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain” (Qs. Ali Imran: 195)

 

mestinya lebih dari cukup untuk kita, tidak mendikotomi jilbab dengan kontribusi. berjilbab berarti bermanfaat bagi yg lain. menutup aurat berarti peduli sesama manusia bahkan makhluk hidup, tidak hanya perempuan. berpakaian syari berarti turut aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan. seperti itulah sejatinya Islam.

 

dan lebih dari cukup, muslimah yang mencontohkan terlebih dahulu, dengan bidang keprofesian masing-masing.

3. Ayat Waris

“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta….” – Q.S An Nisa: 11

 

banyak yang salah memahami ayat tsb, perempuan dianggap nomor dua dalam islam karena mendapat jatah lebih sedikit.

 

padahal, ada sebab-sebab dibalik itu semua. perempuan tidak dapat kewajiban bertanggung jawab secara finansial. Laki-laki yang punya kewajiban. disinilah letak dimuliakan perempuan dalam islam. tidak diberi kewajiban, yang melebihi batas kemampuan.

 

melebihi batas kemampuan disini dalam artian; secara fisik tentu berbeda stamina laki-laki dan perempuan. perempuan bisa dan boleh bekerja. tapi tentu stamina tidak sebesar laki-laki.

 

ditambah, jika laki-laki bekerja, ada kewajiban untuk membagi rejeki pada anak dan istri. tapi jika perempuan, berhak untuk menyimpannya sendiri.

4. Tentang Poligami

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” — Surat An-Nisa Ayat 3

 

 

banyak yang salah paham terkait ayat ini. banyak yang menafsirkan bebas, demi menjatuhkan islam, bahwa islam mengajarkan poligami. justru islam mengajarkan monogami. poligami, dengan s&k yang berlaku.

 

adapun sebab ayat tsb, jika melihat sejarah jaman jahiliah. dimana laki-laki dulu bebas menikahi perempuan berapa kali pun, atau bebas menggauli budak perempuannya semau mereka.

 

maka islam datang untuk membatasi itu semua. regulasi yang lebih manusiawi. karena tidak bisa langsung menghapuskan sepenuhnya, maka turun perintah dengan membatasi

 

islam pun memperhatikan sisi manusiawi, dan strategi yang efektif sesuai jamannya.

5. Muslimah dan pendidikan tinggi

“Allah mengangkat derajat orang yang beriman dantara kalian dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat”. (Al Mujadalah : 11).

 

dari ayat ini kita belajar, bahwa menuntut ilmu wajib untuk semua tak terkecuali. tidak benar jika ada yang mengatakan islam melarang perempuan belajar. justru sebaliknya

 

melalui belajar dan pendidikan tinggi ini muslimah memulai peran-peran peradaban. menguatkan fikriyah, meluaskan relasi, memaksimalkan kontribusi.

 

jika seorang anak mewarisi karakter dari ayahnya, maka seorang anak mewarisi kecerdasan dari ibunya. lebih dari cukup menjadi penyemangat muslimah untuk senantiasa belajar. dan membuktikan kesalahan stigma yang mengatakan muslimah hanya pantas dalam rumah.

 

karena pendiri univ tertua di dunia pun, seorang muslimah. Fatimah Al Fihri.

 

A person asked Prophet Muhammad: “Who is most deserving of respect?”

Muhammad said: “Your mother.”

The person then asked: “Who next?”

“Your mother,” Muhammad replied.

Again, the person asked: “Who next?”

Muhammad said: “Your mother.”

Don’t tell me, “Islam oppresses women.”

Tinggalkan Balasan