ASI dan MPASI Saat Bencana

Pemenuhan gizi bayi dan balita yang higienis dan mencukupi nutrisinya menjadi sangat penting untuk menjaga kondisi mereka tetap sehat. Padahal standar pemberian makan untuk bayi dan balita sejak hari ke-6 pasca bencana adalah sama dengan kondisi normal.

Sayangnya, saat bencana terjadi, pemenuhan gizi untuk kelompok ini malah terabaikan. Pendirian dapur khusus bayi dan balita yang dapat memberikan makanan segar, bersih, beragam dan sesuai dengan tekstur usianya, masih sangat minim. Begitupun dengan dukungan dan perlindungan ibu menyusui untuk tetap mempertahankan proses menyusuinya, masih jauh dari ideal.

Karena masih adanya salah paham di masyarakat tentang kebutuhan gizi bayi balita, yang seolah sudah tercukupi dengan pemberian makanan instan, seperti biskuit, bubur instan dan bantuan susu formula untuk seluruh penyintas bayi balita selama dalam situasi darurat paska bencana.

Belum lagi masalah pendistribusian bantuan berupa susu formula dan MPASI instan yang tidak terkontrol, tidak seimbang dengan ketersediaan air bersih yang sangat minim untuk menyajikan maupun mensterilkan peralatan makan untuk bayi balita. Akibatnya, angka kejadian diare pada bayi dan balita meningkat.

Dalam kondisi bencana, diare bayi dan balita dapat berujung fatal hingga mengakibatkan kematian. Pemberian susu formula yang tidak tepat juga dapat mengganggu proses menyusui terutama untuk bayi 0-6 bulan, sehingga perlindungan anti infeksi dan imunitas yang seharusnya didapat dari ASI menjadi berkurang yang menyebabkan bayi rentan sakit. Ditambah masalah ketidak cocokan dan alergi terhadap susu formula yang diberikan, dapat memperparah kondisi bayi.

*ASI Dalam situasi bencana*

Saat bencana terjadi, perhatian lebih juga perlu diberikan kepada penyitas bayi, balita dan ibu menyusui agar proses keberlangsungan hidup mereka dapat berjalan dengan baik. Ibu yang terkendala dalam menyusui diberi bantuan agar bisa menyusui kembali. Upaya ini dilakukan dengan edukasi, pendampingan dan memberi bantuan praktis pada ibu menyusui.

Bantuan untuk ibu menyusui dapat berupa :
1. Asupan bergizi berimbang.
2. minuman hangat dan camilan sehat
3. pakaian ganti dan personal hygiene (alat-alat mandi, pembalut, CD, Bra)
4. edukASI tentang pentingnya menyusui dan MPASI bagi bayinya
5. pendampingan untuk meningkatkan percaya diri ibu
6. ruang privacy untuk menyusui (bisa juga berupa apron, atau kain multiguna seperti kain jarik)
7. bantuan ahli untuk mengatasi masalah menyusui.

*Bantuan Susu Formula*

Dalam keadaan bencana, Susu formula dapat diberikan secara terbatas dengan kepada bayi dengan kondisi :
1. Karena alasan medis tidak dapat menerima ASI ibu
2. Bayi terpisah dari ibu (ibu meninggal, belum ditemukan, dalam perawatan luka/sakit berat)
3. Bayi yang sebelumnya telah mendapat susu formula

Bayi yang mendapat susu formula di situasi bencana harus mendapat pendampingan khusus dari tenaga kesehatan/konselor menyusui. Dengan memastikan keluarga bayi telah paham cara menyajikan susu formula dan teknik sterilisasi produk bayi.

Bantuan susu formula harus dibawah kordinasi Kementrian kesehatan kabupaten/kota setempat. *Tidak boleh* diberikan langsung kepada penyintas dalam paket bantuan untuk ibu. Ini diatur dalam Permenkes No.39 tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya.

*MPASI dalam situasi Bencana*

Dalam keadaan bencana, Pemberian MP-ASI instan dilakukan hanya jika terjadi kelangkaan makanan dan berlangsung tidak lebih dari 5 hari, pada masa tanggap darurat. Selain saran untuk melanjutkan menyusui dan MP-ASI makanan keluarga perlu diberikan untuk mencegah terjadinya kurang gizi, diare dan penyakit lainnya akibat ketersediaan air bersih yang terbatas dan sanitasi yang kurang memadai.

Penyediaan MP-ASI dalam situasi bencana biasanya belum tersedia dalam dapur umum. Akan lebih baik bila dapat diupayakan dapur khusus bayi dan balita. Namun, bila belum memungkinkan, pada kondisi bencana, Bayi dan anak dapat diberikan makanan dewasa setelah bayi berusia 6 bulan dengan cara makanan itu dilumatkan atau dicincang/dipotong sesuai tekstur yang bisa diterimanya. Dengan syarat makanan bersih, aman, serta tidak pedas. Garam beryodium, minyak sayur dan santan encer dapat diberikan kepada bayi setelah berusia 6 bulan dengan jumlah terbatas. Variasi bahan makanan diupayakan memenuhi seluruh bahan dari 4 kelompok bahan (makanan pokok, protein hewani, protein nabati, dan sayur-buah).

Seperti ilustrasi makanan dewasa yang tersedia pada poster di bawah ini, makanan yang tersedia dapat diolah menjadi MP-ASI yang aman, tepat waktu dan berkualitas. Kita dapat menyajikan makanan yang tersedia dengan menyesuaikan tekstur dan jumlah makanannya sesuai usia bayi dan anak.

Untuk bayi usia 6 – 9 bulan, makanan yang tersedia dapat disajikan dengan disaring/diuleg sebelum diberikan ke bayi. Jumlahnya antara 2-3 sdm untuk bayi usia 6 bulan dan 125 ml untuk bayi 9 bulan.

Untuk bayi berusia 9-12 bulan, makanan yang tersedia dapat diberikan dengan cara dicincang-cincang sesuai kemampuan bayi dengan jumlah ½ hingga ¾ mangkuk (250 ml).

Anak yang berusia diatas 12 bulan dapat diberikan makanan yang tersedia dengn memotong-motong dengan jumlah ¾ hingga 1 mangkuk (250 ml) setiap kali makan.

Jadwal pemberian MP-ASI mulai dari 2-3 kali makan pada usia 6-9 bulan dan 3-4 kali makan pada usia 9-24 bulan dengan ditambahkan makanan selingan 1-2 kali dapat berupa buah-buahan.


Dalam situasi bencana, tetap yang utama adalah mengupayakan agar ibu dapat melanjutkan menyusui dan mendukung pemberian ASI karena pemberian susu formula justru dapat memperbesar risiko kematian akibat diare dan penyulit lainnya. Yuk dukung ibu untuk menyusui dan memberikan MP-ASI berkualitas. Mari kita bantu para ibu, bapak/pengasuh memperoleh informasi yang benar dan lengkap tentang PMBA dan bebas dari pengaruh pemasaran susu formula dan pengganti ASI (PASI).

Tinggalkan komentar