Amalan Yaumi dan Hubungannya dengan Pribadi Muslim

Meminjam moto dari seorang kawan, yang dicuplikkan dari petuah sang guru syaikh alawy al maliki al hasani yakni Maa Ziltu Tholiban “Selamanya Aku Tetaplah Seorang Santri”, maka ijinkan saya untuk tetap belajar pada sesiapa saja termasuk dalam forum sore hari ini, jangan ragu menegur bilamana terang salahnya. Karena yang demikian tidaklah mengapa, Apalagi oleh seorang faqih yang beradab. Ahh indahnya.

Baik. Berbicara tentang muslim, maka identik dengan suatu perbuatan kebaikan yang telah Allah perintahkan dengan berbagai hukum di dalamnya yang bersama kita mengenalinya dengan sebutan amal sholih.

Sebelum menginjak pada penuturan selanjutnya ijinkan saya memberikan kabar gembira dari Allah melalui quran surah Annahl : 97 yang artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Dari quran surah annahl diatas kita mengetahui bahwasannya setiap kita yang mengerjakan amalan shalih akan mendapatkan balasan berupa “kehidupan yang baik” yang mana setiap dari kita pasti berharap untuk mendapatkannya bukan?

Nah.. disini saya merasa ada missing link yang saya temui antara muslim yang punya keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang baik dan usaha usaha yang diupayakan untuk hal tersebut.

Banyak dari kita umat muslim yang ketika mengerjakan sesuatu hanyalah berlogika dengan logika manusia yang sifatnya terbatas tanpa melibatkan iman didalamnya. Contohnya adalah ketika kita menginginkan diberinya rezeki, maka usaha yang kebanyakan orang lakukan hanyalah dengan giat bekerja.

Padahal seorang mukmin yang mentadabburi ayat tersebut mestinya tidak mencukupkan dirinya hanya sampai disitu.

Ketika kita menginginkan rezeki, sebagai seorang muslim maka, sebelum meng-ikhtiar-kan dengan bekerja ada niat yang perlu kita bangun dan rupakan hanya untuk mendapatkan ridho dan berkah dari Allah, dan ada tawakal yang perlu untuk serta merta menyertai segala laku kita sebagai seorang yang telah berjuang.

Dan yang menjadi inti agar hati kita semakin teguh adalah dengan menyelipkan disela sela benarnya niat, dan tawakal itu dengan amalan tambahan (sunnah) yang istiqomah yang dilakukan terus menerus setiap harinya dengan tujuan agar Allah makin cinta sama kita. Kalau Allah udh cinta sama kita, maka seluruh dunia bakalan cinta sama kita.

Seperti sabda rasulullah SAW, dari Abu Hurairah, dia menceritakan, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya jika Allah SWT mencintai seorang hamba, maka Jibril pun berseru, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Kemudian Jibril juga mencintainya, lalu Jibril berseru ke langit, ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka semua yang ada di langit mencintainya, serta diberikan tempat yang luas baginya untuk dicintai di bumi,” (Muttafaqun Alaih).

Amal itu merupakan wujud konkret dari iman seorang muslim.

Muslim yang benar imannya tentu ia akan gerah bilamana hanya berdiam diri ketika ada maksiat yang mewabah di lingkungannya , ketika ada orang orang terdekatnya yang belum merasakan manisnya iman.

Maka dengan imannya ia membentuk amal untuk bertindak dengan diikuti adab dan ilmu serta dibarengi dengan konsistensi dalam beramal sehari hari bukan hanya yang wajib saja melainkan juga amalan tambahan sebagai wujud usaha kita dalam merengkuh cinta sang pembolak balik hati setiap hamba.

Memperbagus amalan yaumi merupakan suatu benteng bagi muslim yang juga menjadi ciri khas dari seorang muslim sehingga tetap kuat dalam menghadapi segala halang rintang yang menghadang dan tetap teguh pada jalan kebenaran yakni addinul islam

Barang siapa memperbagus hal-hal tersembunyinya, niscaya Allah jelitakan apa yang tampak dari dirinya. Barangsiapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah baikkan hubungannya dengan sesama. Barangsiapa disibukkan oleh urusan agamanya, maka Allah yang kan mencukupinya dalam perkara dunia (‘Umar Ibn ‘Abdil ‘Aziz)

Tinggalkan Balasan