Amal Yaumi dan Endurance Aktivis

Berbicara mengenai amal yaumi dan endurance aktivis ini ibarat saya berbicara pada diri saya sendiri.

Ulasan berikut saya tulis bukan karena tangguhnya saya, bukan juga karena hebatnya saya.
Namun, saya pernah mengalami dan tahu persis bagaimana rasanya saat kita ingin berjuang untuk sesama namun kita lupa berjuang di mata Allah. Saya pernah merasakan lemahnya daya tahan dan daya juang karena atas kelalaian saya akan hak-hak Allah.

AMAL YAUMI DAN ENDURANCE SEORANG AKTIVIS

Barangsiapa yang telah mengikrarkan dirinya menjadi seorang aktivis maka jalan panjang telah menantinya. Seorang aktivis berjuang untuk kemaslahatan ummat, kemaslahatan negara dan rakyat. Ia bekerja mengemukakan gagasan, ide, dan menuangkannya dalam bentuk aksi nyata. Aktivis itu menggerakkan. Maka ibarat roda yang bergerak, ia membutuhkan istiqomah pada porosnya, yaitu iman.

Ibarat sebuah mesin, ia membutuhkan bahan bakar agar lajunya tetap terjaga dan menghasilkan energi yang menggerakkan. Berikanlah makanan-makanan yang halal dan thoyyib untuk jasadmu. Sajikanlah bacaan-bacaaan bermutu bagi fikriyahmu. Dan mantapkanlah jiwamu dengan mendekatkan diri pada Tuhan mu.

Perjuangan ini bukan untuk memperoleh sanjungan, wahai yang bergelar aktivis. Sejatinya perjuangan ini adalah tanda syukur atas hidup yang telah Allah berikan padamu. Sejatinya dakwah kita, kerja-kerja kita bukanlah untuk mendapatkan piala atau tropi yang malah akan melalaikan kita dari hakikat perjuangan itu sendiri.

Hakikat perjuangan adalah menyeru umat manusia pada kebenaran risalah Tuhan-nya. Hakikat engkau meneriakkan keadilan adalah untuk mewujudkan hidup yang sesuai tuntunan-Nya. Dan hakikat perjuangan adalah pernyataan sikap kita kepada Rabb pemelihara sekalian alam, bahwa kita adalah bagian dari barisan pembela-Nya.

Maka semua ini adalah tentang iman. Ada atau tidaknya kawan seperjuangan, kau akan tetap berjalan menjadi penyeru kebaikan. Ada atau tidaknya pasukan tidak akan membuatmu goyah menyampaikan kebenaran. Cacian dan pujian tidak memiliki signifikansi pada perjuanganmu. Kau akan terus berjalan menjadi penyeru kebaikan, penuntut keadilan. Semua itu karena engkau lakukan karena Allah. Titik.

Maka, jika engkau wahai aktivis saat ini merasa perjuangan itu berat, hatimu mulai goyah, dan aktivitas kebaikan yang kau lakukan mulai terasa berkurang maknanya.

Wahai saudara seperjuangan, mungkin bahan bakarmu telah menipis. Mungkin imanmu sudah menipis. Mungkin ibadahmu kian kembang kempis.
Amal yaumi, ya bahan bakar aktivis itu bernama amal yaumi.

Sesungguhnya Allah telah mencukupkan bagimu perangkat hidup, perangkat berjuang. Kepada siapa lagi engkau menyandarkan punggungmu bila tidak kepada Allah, Rabb sekalian alam. Dengan apa lagi engkau mohon kekuatan dan keteguhan jika tidak dengan sujudmu, tengadah tanganmu, dan merendahnya dirimu di hadapan-Nya.

Betapa sholat itu akan mencegahmu dari berbuat yang keji dan mungkar. Sholat itu meneguhkan jiwamu. Meneguhkan mentalitasmu wahai aktivis. Sholat adalah benteng utama dan pertama, wahai yang mengaku agen perubahan. Bila panggilan sholat dari Rabb-mu engkau abaikan dan engkau tunda-tunda, maka wajar jika saat umat berteriak dan membutuhkanmu, engkau pun tuli wahai diri.

Peliharalah tahajudmu, maka Allah akan mudahkan bagimu segala urusan dunia. Cintailah sepertiga malammu niscaya akan engkau peroleh cinta manusia. Fasihkan lidahmu, berdzikir dan bermunajatlah di sepertiga malam agar yang terucap dari lisanmu selalu mengandung hikmah.
Akrabkanlah hati dan pikiran kita dengan Al-Quran. Karena jalan perjuangan tidak senantiasa benderang. Al-Furqon, cahaya ilahi akan menuntunmu memilah mana kawan mana lawan. Ia akan menuntunmu di setiap langkah.

Karena sungguh, medan juang itu sangat berat, engkau tak akan kuat wahai sahabat. Maka mintalah bimbingan-Nya. Akrabkanlah dirimu dengan Al-Qur’an.

Saat engkau lelah sebutlah nama-Nya. Saat engkau bersusah dan sempit hati tilawahlah. Sucikan jiwamu dengan puasa. Saat urusan banyak menghimpitmu dan engkau engkau semakin sulit membagi waktu, atur kembali sholatmu agar tepat waktu. Saat engkau taat, Allah akan mudahkan urusanmu.

Jika engkau telah berupaya memperbaiki ibadahmu namun tak kunjung kau rasakan perubahan dalam dirimu. Istighfar, barangkali masih ada dosa-dosa yang masih menahanmu.

Kalau kau masih galau juga sebagai aktivis, cek imanmu. Sudahkah engkau benar-benar telah mengamalkan 6 rukun iman? Cek kondisi hati dan tauhidmu. Bisa jadi ibadahmu menggunung secara kuantitas namun minus dalam kualitas. Mari bersihkan hati, mari sucikan jiwa (Tazkiyatun-Nafs).

Akhir kata, mari kita tengok dan resapi nasehat dari HAMKA:

Maka tegaklah dengan teguh, istiqomahlah, laksana batu karang diujung pulau menerima hempasan segala ombak dan gelombang yang menggulung; setiap ombak dan gelombang datang, setiap itu pula ia membawa zat yang akan menambah kokoh dirinya.
(HAMKA, Pandangan Hidup Muslim)

“Cobalah pasang dan susun jiwa kembali. Kembali ke dalam istiqomah, niscaya terbuka kembali hidayah. Niscaya hilanglah bayang-bayang dari sesuatu yang tidak ada hakikatnya itu … Niat hati hendak istiqomah, dan Tuhanpun memang menyediakan jalan yang mustaqim … Asal istiqomah tak pernah lepas, jalan itu pasti bertemu … ”
(HAMKA, Pandangan Hidup Muslim)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
(Al-Qur’an Surah Fushshilat ayat 30)
Teruntuk saudara-saudari seiman seperjuangan.

Dari saudarimu Rizki Andita Noviar, hamba Allah yang masih belajar istiqomah yang selalu mengharap ridho Allah di setiap peran dan laku kehidupan.

Tinggalkan Balasan