Aku Pulang dengan Dadakan

Hal yang paling dirindukan bagi perantau macam kami adalah disaat pulang kampung. Berjumpa dengan orang tua, keluarga sanak dan saudara. Terlebih lagi jika sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan. Kehadiran mu terkalahkan oleh hadirnya sang penerus keturunan.

Cucu itulah yang paling dirindukan kehadirannya. Kalau kamu? Sudah biasa, tak ada lagi istimewanya. Hihihi. Kalau sudah perihal cucu, apapun sebab dan alasan untuk tidak bisa pulang pasti akan diusahakan dan dicari penyelesaian dari akar masalahnya.

Dan hari ini kami pulang dengan dadakan. Bersebab alasan sangat dirindukan oleh atuk dan juga nenek. Tanpa perencanaan yang matang, karena murni dadakan.

Tadi pagi Ibra ngasih kode dorong dorong koper. Tak lama kemudian neneknya nelpon sambil liat si doi lagi dorong dorong. Dalam hati mungkin ngomong, kangen cucu. Tapi tak terucap. Nah sebagai anak pastinya punya firasat dong, gimana rindunya seorang nenek pada cucunya.

Alhasil saat itu juga minta izin suami. “Yah, kita pulang ya”. Dan memang suami memang sudah lama menyarankan untuk pulang. Dan akhirnya tanpa beribet dengan perizinan langsung dipesenin tiket untuk beberapa jam ke depan.

Singkat cerita Jakarta memang tidak bisa diprediksi. Macet dimana mana, dag dig dug dong, beberapa menit lagi harus check in, sementara raga masih di antara kemacetan.

Disinilah pasrah se pasrahnya sebagai manusia. Berdoa kepadaNya, karena untuk sampai sejauh ini pasti bagian dari rencanaNya. Untungnya gak jadi ganti jam penerbangan, karena kekhawatiran yang berlebihan. Karena logika masih bisa diandalkan, sebagai manusia berencana keputusan tetap di tanganNya.

Dan kini, disinilah kami berada. Tanpa keterlambatan. Karena pertolongan Tuhan diacara pulang yang dadakan.

 

Leave a Comment