Aktivisme Digital : Mudah Memang Tapi Klik Saja Tidak Cukup

By | Juli 26, 2019

Aktivisme Digital: Mudah Memang Tapi Klik Saja Tidak Cukup

Dahulu untuk membela orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan, masyarakat harus berdemonstrasi, beraudiensi dengan pejabat terkait, atau menulis di surat kabar cetak. Kini masyarakat hanya perlu ikut dalam petisi di change.org, menyebarkan informasi di Facebook, atau meramaikan tagar di Twitter supaya menjadi trending topik dan berharap dapat mempengaruhi penguasa.

Aktivisme digital telah mengubah cara masyarakat menyuarakan aspirasinya. Memang terkesan lebih mudah, semudah menggerakkan jempol di atas petikus. Dukungan diberikan semudah mencuit di twitter sambil menyertakan tagar. Tidak harus bersusah payah menghabiskan waktu, tenaga, uang dan pikiran untuk ikut berdemonstrasi seperti dulu.

Beberapa aktivisme digital di Indonesia cukup berhasil. Salah satu yang fenomenal adalah Save KPK ketika kasus Cicak vs Buaya ketika Bibit Samad dan Candra Hamzah, sebagai komisioner KPK dianggap dikriminalisasi oleh Polri. Maka dukungan warganet di Facebook cukup mempengaruhi proses hukum dan dianggap “menyelamatkan” dua komisioner tersebut dari jerat kriminalisasi.

Kasus lain yang juga berhasil adalah koin untuk Prita, pasien di sebuah rumah sakit yang harus membayar denda yang kepada Rumah Sakit Omni Internasional sebesar Rp204 juta. Prita Mulyasari, menjadi terdakwa kasus pencemaran nama baik rumah sakit tersebut. Warganet membuat gerakan koin untuk prita dan terkumpul uang hingga Rp825.728.550 untuk membantu Prita membayar denda tersebut.

Kedua fenomena tersebut awal dari optimisme warganet terhadap aktivisme digital untuk membela mereka yang tidak berdaya melawan dominasi. Dalam kasus Save KPK, masyarakat membela KPK sebagai garda terdepan pemberantasan korupsi melawan institusi lama yang dianggap korup. Sementara dalam kasus Koin untuk Prita masyarakat membela warga negara biasa yang tidak berdaya melawan korporasi dan penegakan hukum yang dirasa tidak memberikan keadilan.

Mengapa aktivisme digital dengan cepat mendapatkan dukungan dari warganet? Merlyna Lim dalam artikelnya “Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia” menyebut platform Facebook yang transparan radikal memungkinkan hal tersebut. Karena dalam Facebook warganet dapat melihat perilaku teman dalam media sosial secara transparan maka kecenderungan untuk melakukan hal yang sama menjadi besar. Konformitas terhadap pertemanan yang banyak mendukung aktivisme digital membuat warganet ikut menyuarakan dukungan yang sama.

Selain itu, jaringan media sosial yang lemah dan longgar memudahkan proses persebaran informasi. Jaringan lemah ini saling berkelindan antar kelompok pertemanan satu sama lain. Tidak seperti jaringan di dalam dunia nyata yang terkategori jaringan kuat, jaringan di dunia maya sangat lemah dan artifisial. Platform dengan jaringan lemah ini menjadi trajektori ekspansi persebaran informasi. Saking mudahnya berpartisipasi dalam aktivisme digital, beberapa kalangan memplesetkan aktivisme digital menjadi aktivisme klik atau bahkan slacktivism (aktivisme malas). Meskipun begitu, aktivisme digital dianggap berhasil dalam beberapa kasus.

Selain kasus Save KPK dan Koin untuk Prita, Change.org sebagai platform petisi daring diklaim telah berkontribusi dalam beberapa aktivisme digital. Dalam kasus RUU Permusikan misalnya, karena dianggap tumpang tindih dengan beberapa Undang-Undang lainnya; seperti Undang-Undang Hak Cipta, Undang-Undang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, dan Undang-Undang ITE dan bertolak belakang dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, serta bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945 yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dalam negara demokrasi maka petisi penolakan dibuat dengan tagar #TolakRUUPermusikan. Petisi berlangsung dalam mendapatkan 300 ribu pendukung. Pada akhirnya RUU Permusikan dicabut.

Tidak berhenti di situ, petisi lain bisa dikatakan berhasil memberikan tekanan kepada pihak berwenang untuk mengubah kebijakan. Beberapa di antaranya adalah pungutan cukai untuk kantong plastik, tekanan mundurnya Edy Rahmayadi untuk mundur dari ketua PSSI, bebasnya Wasis Basuki dan Bambang Hero yang dikriminalisasi sebagai saksi ahli perusakan lingkungan, serta dicabutnya remisi untuk pembunuh jurnalis AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Merlyna Lim dalam artikel yang sama mengatakan bahwa aktivisme digital yang relatif berhasil biasanya membawa narasi yang sederhana, sesuai dengan narasi dominan, cenderung berisiko kecil, serta menggunakan simbol-simbol tertentu. Kriteria ini sesuai dengan beberapa kasus di atas. Namun beberapa petisi lain tidak mampu mengubah kebijakan.

Dapat dikatakan bahwa aktivisme digital memang memiliki tingkatan dampak yang berbeda-beda. Di tahap awal yang paling mudah adalah sarana diseminasi informasi yang meningkatkan pengetahuan warga mengenai suatu isu. Tahap selanjutnya adalah peningkatan kesadaran. Kuatnya kesadaran warganet akan isu tersebut mendorong ke tahap selanjutnya yakni keterlibatan. Pada tahap ini warganet akan ikut berkomentar dan menyuarakan pendapatnya baik pro ataupun kontra.

Tingkat yang lebih tinggi adalah tahap mobilisasi. Apakah warganet ikut serta dalam aksi demonstrasi atau mobilisasi massa di ruang-ruang publik. Karena aktivisme digital tidak akan memberikan dampak yang besar tanpa aksi menduduki ruang-ruang publik sebagai simbolisasi perlawanan serta tekanan terhadap pembuat kebijakan. Manuel Castells dalam bukunya yang berjudul Hope and Outrage menyebutkan bahwa gerakan perlawanan harus menggabungkan dominasi di dalam ruang urban, yakni ruang-ruang publik di dunia nyata dan ruang siber, yakni ruang-ruang percakapan di dunia maya.

Masyarakat sipil harus mampu memenangkan simpati dan keberpihakan warganet dalam ruang arus informasi (space of flow) dan ruang-ruang urban (space of place). Perjuangan aktivisme digital yang mengakibatkan resiko besar bagi kepentingan korporasi ataupun pemerintah tidak akan berhasil tanpa tekanan di dunia nyata. Jadi, kebijakan pemerintah tidak akan berubah hanya karena banyaknya tanda tangan petisi.

Tinggalkan Balasan