10 Cara Menjadi “New Moms” yang Lebih Bahagia

Menjadi orang tua, apalagi seorang IBU, harus siap dengan segala sesuatu di luar kewarasan. Kaki di kepala, kepala di kaki. Terutama berkaitan dengan rutinitas baru yang bakal jadi shock therapy bagi seorang introver garis keras yang hobi menyepi dan menikmati keheningan.

Memang sih, saya tidak memungkiri kalau para ayah juga menanggung derita tersendiri. Misalnya, setelah lelah seharian kerja masih harus bangun malam karena tangisan bayi. Terus, juga kudu sabar mendengar keluhan istri yang masih ngilu dengan jahitan atau bekas operasi.

Belum lagi, pusing dengan biaya melahirkan dan printilan kebutuhan. Ditambah pula, jika Anda merupakan seorang ayah yang soleh, teladan, dan penyayang, akan rela sibuk dengan urusan dapur dan cucian karena istri belum pulih untuk kembali dinas.

Salam hormat dari kami, para mahmud yang masih bertanya-tanya kapan bisa tampil cantik macam Dian Sastro lagi.

Dan lalu, untuk kalian yang mampir ke tulisan ini, yaitu para orang tua baru, calon orang tua baru, atau abege-abege dewasa, tulisan ini hanya catatan saya saja ya. Harap tidak berekspektasi berlebihan. Saya cuma seonggok emak newbie lulusan perawat.

Jadi, silahkan jika ada yang ingin ditambahkan dan dikoreksi oleh emak-emak senior.

Here we are. 10 poin untuk menjadi orang tua baru yang lebih bahagia dan bebas stress:

1. Deal with “baby blues”

Ini poin pertama dan utama. Emosi yang labil. Mudah sedih, mudah kesal, mudah khawatir, mudah kecewa, adalah gejala “biasa” yang menjangkiti ibu baru. Sekali lagi, ini “biasa” lho. Hampir semua perempuan mengalami.

I feel you. Terutama kalau ada luka jahitan yang subhanallah ngilunya, ASI belum lancar, ada masalah ketika kelahiran, dan bayi menangis keras sampai kedengeran orang sekampung. Huft. Bantuan dari orang lain malah kita anggap sebagai “intervensi” dan merasa jadi ibu paling tidak becus sedunia. Sedikit komentar, saran, atau secuil kritik dari orang lain bagaikan aba-aba agresi militer. Drama queen abis. Ya kan?

Tapi, kamu tidak sendiri kok. Ada saya dan miliaran ibu lain yang mengalami hal sama. Not a big deal. Coba deh, berhenti dulu nonton sinetron atau Bollywood yang sedih-sedih. Mending cari hiburan lain. Misalnya, nonton Doraemon sambil menyusui, mantengin acara traveling, pacaran sama suami, atau ketawa-ketiwi sama tamu yang nengok bayi.

Karena, gini lho kondisinya: Ada manusia kecil tak berdaya, menggantungkan hidup padamu, membutuhkan kasih sayangmu, mencintaimu apa adanya meski belum mandi seminggu, terus apa lagi yang bisa membuatmu sedih jika hubungan kalian seromantis itu?

2. Read, and toss the book

Baca buku seputar pengasuhan anak, sah-sah saja. Justru memang dianjurkan. Tapi, teori biarlah menjadi teori. Pengalaman orang lain biarlah menjadi pengalaman orang lain. Jadikanlah ilmu itu sebagai referensi. Jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, santai. Tatap bayimu dan yakinlah bahwa kalian akan mengukir kisah cinta yang lebih indah.

Bagaimana pun juga, bayi rapuh itu adalah manusia. Ciptaan Allah yang dibekali akal dan perasaan. Dia bukan robot, bukan pula hewan sirkus. Dia memerlukan proses pembelajaran, bukan sekadar latihan. Dia butuh kasih sayang, bukan cuma perawatan. Hargailah keunikannya dalam merespon dunia. Karena seperti kamu, dia juga ingin dimengerti dan diterima apa adanya, sepenuh hati.

3. You don’t wanna miss a thing

Kita sepakat lah ya, perkembangan bayi adalah objek foto paling indah. Apalagi bagi para orang tua muda penghuni media sosial, ini saatnya kalian unjuk gigi. Bersiaplah dengan kamera yang mumpuni dan abadikan setiap momen berharga. Momen manis yang akan kalian rindukan sampai ke ubun-ubun.

Lupakan frustasi mengganti popok bayi, menenangkan tangisan, dan mata bengkak karena begadang. Semua akan sedikit terobati dengan like, komentar positif, dan antusiasme dari orang lain.

Jadi buat para jomblo, jika ada foto unyu-unyu berseliweran di linimasa, tidak perlu baper, apalagi nyinyir seolah mereka tidak empati. Ada baiknya berkomentar positif. Karena dibalik uploadan foto-foto bayi, ada para orang tua yang butuh katarsis dan menghibur diri.

4. You are the chosen two

Bayi menangis karena memiliki kebutuhan yang belum terpenuhi. Dia butuh perlindungan, kasih sayang, dan kenyamanan. Jadi {…|…} tenangkan diri dulu, ketika ingin menenangkannya. Hindari kepanikan, karena akan berdampak pada bahasa tubuh dan sentuhan kalian. Bayi itu sensitif lho, Mas Bro dan Mbak Sis.

Bagaimanapun juga, Tuhan sudah memilih kalian berdua untuk menjadi orang terdekatnya. Ada ikatan tak kasat mata di antara kalian bertiga. Jadi yakinlah, yang mampu menenangkan dan memenangkan hati bayi secara alamiah ya kalian berdua. Bukan neneknya, bukan pengasuhnya, bukan pula tetangga.

Be confident. You are the chosen two.

5. Remember your childhood

Susah ya untuk mengingat masa-masa ketika kita masih bayi? Tanya dong. Ke orang tua, ke kakek nenek, ke keluarga besar, ke tetangga, waktu bayi kita seperti apa. Mungkin ada kesamaan dengan bayi kita sekarang. Lucu kan membayangkan jadi orang tua kita dulu dengan kita dalam gendongan.

Mengetahui pengalaman dari orang tua biasanya lebih nyambung dan mirip dengan pengalaman kita. Pembelajaran, maupun penyesalan dari mereka ketika mengasuh kita, bisa menjadi harta paling berharga yang bisa kita dapatkan untuk masa depan yang lebih bijaksana.

6. Stay connected

Selalu isi paket data internet, pasang router, install browser, aplikasi chatting, dan beragam printilan konektivitas lainnya. Serius lho, ini penting. Google menjadi sahabat terbaik bagi orang tua baru yang mudah panik. Iya, semacam saya. Mau penting atau tidak, dikit-dikit googling. Perkembangan bayi minggu per minggu, lihat cara ini cara itu, mitos ini mitos itu, banyak deh pokoknya.

Lagipula, kalau bongkar buku kan rempong ya, Mak. Jadi setidaknya butuh internet lah, meski cuma untuk tanya-tanya via WA/Line/BBM/Catfiz ke orang-orang soal bayi dan dunia pengasuhan anak.

7. Love your parents (and of course, partner)

Kita pada hafal kan doa untuk orang tua? Redaksinya ya gitu, “…sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil.” Heu, baru kerasa sekarang kan yaaa, merawat dan menjaga anak kecil dari lahir sampai besar itu memang pekerjaan dan pengorbanan luar biasa. Baiknya sih, selalu luruskan niat sebagai pengabdian agar tetap waras dalam menjalaninya.

Kalau sudah sadar, sungkem dulu sama orang tua, doakan mereka dengan sepenuh jiwa. Toleh juga ke samping, istri/suami yang siap mendampingi dan mendukung kita hingga liang lahat. Suguhkan tatapan penuh cinta. Menghamba bersama, semoga tetap bersama-sama hingga ke surga.

8. Your children is a blank paper

Poin ini berkaitan dengan jebakan dunia. Manusia yang baru dilahirkan, sebut saja bayi, masih sepenuhnya fitrah. Suci. Dia bersih dari pikiran buruk, apalagi pengingkaran terhadap kebenaran. Nah, ini tugas besar untuk para orang tua baru. Yaitu menjaga fitrah kebaikan pada diri anak kita. Fitrah keselamatan dunia akhirat.

Misalnya, kalau saya, memilih menidurkan dan menggendong bayi diiringi murottal atau muraja’ah hafalan Al-qur’an. Jika nasyid pun berupa doa seperti Doa Rabithah-nya Izzis. Ya, setidaknya dengan kumandang kebaikan-kebaikan, kami berharap dia akan selalu mengingat Tuhan dengan perasaan yang nyaman. Setelah ia tumbuh besar, wallahu ‘alam. Usahakan saja yang terbaik sebagai langkah kita menjaga amanah.

Jadi, buat yang lagi hamil, banyak-banyak tambah hafalan agar yang didengar bayi lebih variatif, karena {…|…} saya sih meyakini bahwa mom’s voice is the best lullaby!

9. Your children are not your children

Anakmu bukan anakmu. Saya setuju sekali dengan sepenggal puisi Kahlil Gibran itu. Meski raganya berada dalam dekapanmu, jiwa dan hatinya tetaplah dalam genggaman Sang Pemilik Nyawa.

Ada kalanya dia tidak memenuhi keinginan kita, terus menangis, sulit tidur, mintalah pertolongan kepada Allah. Soalnya, kita ini kan cuma serpihan debu kosmik di antara pemekaran semesta. Segala kebaikan, kemudahan, dan sebentuk anak sholeh, daya dan upayanya tentu hanya dari Allah.

Tarik nafas dalam dan hembuskan, Allah sebaik-baik pelindung dan penolong setiap makhluk-Nya.

10. This.too, shall pass

Terakhir dan terpenting. Bayi kita akan tumbuh besar dan mandiri. Mungkin dia akan merantau, menjelajahi dunia, menemukan teman baru, tambatan hati, dan membina keluarganya sendiri. Momen-momen dia membutuhkan dan menggantungkan hidupnya pada kita akan berlalu begitu cepat. Kelelahan, kantung mata, semua kerempongan, akan menjadi kenangan terindah karena inilah saat-saat terdekat kita dengannya. Masa’ sih mau dirutuki dan berlalu begitu saja?

Percayalah, akan ada masa kita sangat, sangat, sangat merindukan saat dia bermanja-manja. Akan ada masa kita kehilangan senyumnya ketika ia beranjak remaja dan memiliki argumen berbeda. Akan ada masa kita duduk sendiri menantikan kehadirannya, kepulangannya, dan mengharapkan kehangatannya dalam dekapan kita.

Serius, momen paling membakar hati saya adalah ketika menunjukkan gaun pengantin saya ke Bapak. Meski tersenyum, i know it really break his heart.

***

Dan {…|…} kini kita telah merasakan lahir baru sebagai orang tua.

Let’s enjoy this perfect moment, emak-emak di seluruh dunia!

Tinggalkan komentar